Senja mengantarkan mentari yang terbenam dengan indahnya di ufuk barat. Menyisakan bulir-bulir kenangan dalam hati ku saat kau disini. Tak bisakah kau untuk sebentar menemaniku hingga mentari tersenyum di ujung timur sana? Ah, aku lupa kau tak pernah peduli pada aku yang selalu mengharap hadirmu disini. Seakan percuma ribuan langkah kaki ini berlari mengejarmu yang semakin menjauh, menyisakan lelah untukku. Tanpa kau suruh pun, aku akan memutar balik arah ku agar tak lagi berlari mengejarmu karena kau seakan tidak peka ada aku disini. Aku sendiri tak tau sampai kapan aku terus bermimpi untuk bisa mendampingi dirimu, bahkan saat tau dirimu lebih memilih dia yang bagimu indah, aku masih saja terus bermimpi untuk bisa berdua denganmu. Kau tau?? Kau membuat waktuku begitu tersita dengan segala angan tentangmu. Aku selalu mencoba untuk mengabaikan dan melupakan semua tentang dirimu namun aku tak bisa. Rasa lelah itu selalu ada namun kalah lagi dan lagi dengan mimpi ku yang begitu besar untuk bersama dirimu. Terlalu tinggi untuk bermimpi? Ya, memang tapi bagaimana lagi aku untuk meredam semua nya? Pura-pura untuk tidak suka padamu?? Sulit. Semakin aku berpura-pura semakin sakit yang ku rasa. Aku pun kadang berpikir mungkin rasa ini akan memudar dengan sendirinya mengikuti arus waktu yang terus bergulir. Meninggalkan detik-detik kenangan saat bersama.

Namun sepertinya kali ini aku menyerah untuk meyakinkan dan membuktikan pada mu bahwa ada cinta yang nyata, bahwa ada aku disini. Sekeras apapun aku berusaha tak akan ada artinya kalau kau sendiri pun mengabaikanku. Biarlah ini menjadi memori indah untukku bahwa aku pernah mengenalmu, berbincang denganmu, menghabiskan senja berdua denganmu. Namun satu yang ku pinta, biarkan aku menjalin persahabatan denganmu. Itu saja, tak muluk-muluk.