Kemuning senja perlahan mulai terbenam dalam deburan air ombak kala suasana itu sedang romantis-romantisnya. Burung-burung bersahutan melepas pergi sang surya menuju kegelapan malam. Sehebat-hebatnya mentari yang berpijar, waktu mengalahkannya dan memaksanya pergi untuk menerangi sisi lain bumi.

Dalam terbenamnya mentari, akan ada saatnya ia terbit kembali. Dimulai dari pagi, siang, sore hingga ia pergi. Menyuruh bulan menggantikannya. Konstan dan tak terbantahkan, dirinya wujud esensi kekuatan yang daripadanya bumi berjalan mengelilinginya. Setiap planet penghuni bima sakti pun mengakuinya.

Dalam kehebatanya itu, tersimpan pesan romantis kepada setiap insan manusia. Dirinya berucap tak bersuara, ingatkan jika ia berlari semakin cepat. Diburu waktu menuju titik akhir. Hingga nanti tiba saatnya, mungkin ia pun menangis dalam terbit yang berbeda dari biasanya. Padahal ia sudah berulang kali berucap, terbenamnya aku untuk menuju kehidupan baru. Pun dirimu insan semesta. Jangan sampai kau tercengang dalam terbitku yang berbeda.

Aku berulang kali mengingatkanmu. Terangku mulai dari hangat, panas, hingga tak terasa. Pun dirimu insan semesta. Dirimu kecil, besar hingga tua. Pagi seperti apa yang akan menjemputmu di kemudian. Itu tergantung seperti apa terbenamu.