Minggu adalah hari yang paling aku dan keluargaku tunggu. Setelah pagi hingga petang, disetiap senin sampai sabtu, kami habiskan dengan kesibukan ini-itu. Oleh sebab itu, hanya dihari minggu-lah kami dapat berkumpul utuh. Bersama-sama menikmati sinar Fajar yang pelan-pelan merambat masuk, lewat celah jendela dan pintu. 

Seperti pagi dihari minggu ini contohnya, aku terpaksa bangun karena hangat menjalar disekujur tubuh. Pelan-pelan aku membuka kedua mata, sembari menyeka keringat-keringat jagung yang mulai bercucuran jatuh melewati pelipis. Ah, rupanya matahari bersinar lebih dahsyat dari biasanya. Tak berapa lama setelah mengumpulkan nyawa, aku langsung beranjak dari tempat tidur kemudian dengan langkah gontai berjalan ke arah kamar mandi.

Selangkah keluar dari pintu kamar,  aku berhenti sejenak. Menoleh, kemudian menatap jauh menyusuri lorong. Tatapanku tertuju pada satu titik, yaitu gazebo halaman depan rumah. Ku dapati ayahku sudah berada disana, duduk bersila kaki sambil membakar sepuntung rokok. Samar-samar terdengar suara musik lawas, berasal dari radio usang yang masih jadi kesayangannya.

Aku pandangi ayah dari kejauhan. Rambutnya yang ikal dan lebat, kini sudah mulai dihiasi dengan warna putih. Badannya sudah tidak lagi segagah dulu. Aku jadi ingat, kemarin lalu, beberapa kali ayah mengeluh ngilu di pergelangan sendinya. Wajahnya sungguh menyiratkan kelelahan. Namun dibalik itu semua, tekad ayahku untuk membahagiakan keluarga tidak sedikitpun pernah berkurang.

Entah apa yang sedang ayah pikirkan sekarang. Tapi tatapan dari lamunannya sungguh berbeda. Aku melihat ada wajah ibu tergambarkan disana. Pancaran mata ayahku melukiskan kerinduan mendalam,  kepada kekasih hatinya yang setahun lalu pergi menghadap yang Kuasa. Berkat firasat itu, aku kembali melanjutkan langkahku berjalan ke kamar mandi, mencuci muka, gosok gigi, dan secepat mungkin aku ingin duduk disamping ayah.

Advertisement

Selagi mencuci muka, kenangan-kenangan itu satu-satu hadir dipelupuk mataku. Cuplikan dari cerita-cerita ibu yang selalu aku simpan dihati. Aku tau betul perjalanan cinta ibu dan ayah tidak semulus iriana dan jokowi. Juga tidak seromantis ainun dan habibie. Berbeda dengan keduanya, perjalanan cinta ibu dan ayahku sungguh sangat menguras emosi. 

Mulai dari tidak direstui, dicaci dan dimaki, disumpahi dan dibenci, ibu dan ayahku masih tetap berjuang memperoleh ikatan suci. Tidak berhenti disitu, setelah 2 tahun resmi menjadi pasangan suami istri pun, mereka masih dipaksa agar berhenti mencintai. Hingga sampailah mereka diperceraian yang tak terkendali. Ayahku dipaksa menikah lagi dengan perempuan lain, sedangkan ibu harus merawat aku dengan usaha sendiri. 

Tetapi sungguh Allah memang-lah Yang Maha Segalanya. Lewat jalan yang Allah berikan, rupanya cinta mereka kembali dipersatukan. Tidak ada satupun lagi manusia yang bisa memisahkan. Singkat cerita, lahirlah kedua adikku sebagai pelengkap kebahagiaan. Kami hidup bahagia dalam kesederhanaan. Saling berbagi cinta dan kepercayaan. Sampai akhirnya tibalah hari itu, hari dimana Allah memanggil dan mengambil kembali ibu-ku lewat kematian.

Tersadar dari lamunan itu, mataku mulai terasa perih karena terlalu lama kujejali air. Buru-buru aku menggapai handuk dan keluar dari kamar mandi. Entah dapat pencerahan dari mana, aku sok ide membuatkan ayah secangkir kopi. Aku suguhkan kopi hitam itu dihadapan ayah, lalu ayahku menatapku dengan senyum kecil. Setelah itu aku mengambil tempat dan duduk disamping ayahku yang mulai menyeruput kopi tanpa ekspresi.

Cukup lama kami diam disana. Ayah dan aku sama-sama irit bicara. Sesekali aku memecahkan keheningan dengan bernyanyi mengikuti suara musik dari radio. Kebetulan saat itu, stasiun radio sedang memutar lagu ibu milik iwan fals. Yang akhirnya berhasil membuat ayahku bersuara. "Ayah rindu ibu." Aku hanya menunduk dan tersenyum.

Ribuan kilo jarak yang kutempuh,

Lewari rintangan untuk aku anakmu.

Ibuku sayang masih terus berjalan,

Meski tapak kaki penuh darah penuh nanah..