Aku tersungkur dalam ketidak berdayaanku ketika untuk pertama kalinya sejak kau buat luka parah itu di hatiku, aku menoleh ke belakang. Kulihat jejak kaki yang kubuat selama perjalananku melupakanmu. Hmm…, ternyata sudah cukup jauh aku memaksakan kaki ini untuk terus melangkah dengan luka menganga di sebagian besar sisinya. Dalam setiap langkah kakiku, tak henti aku berharap bahwa nanti luka ini akan sembuh. Namun sampai detik ini, luka itu masih menganga, masih saja terasa perih. Aku merasa lelah dan rapuh.

Ingin aku teriak dan meratap. Tak pernah kusangka sebelumnya, bahwa move on akan sesulit ini. Aku putus asa. Aku minta kepada butiran-butiran pasir di pantai untuk menelusup ke dalam luka-lukaku yang menganga, agar aku segera mati karena infeksi. Aku mohon kepada matahari yang mulai terbenam untuk melawan peredaran normalnya dan selalu berada pada posisi tengah hari, agar aku mati karena dehidrasi. Aku mengiba kepada ombak agar ia menyeretku jauh ke tengah samudera, terombang-ambing di zona pertemuan arus panas dan dingin, agar aku lenyap tak berbekas. Namun mereka tetap diam. Mereka tetap sibuk pada aktifitassnya masing-masing. Tak mempedulikanku barang sejenak.

Mendadak aku kesal. Aku marah. Ku acak-acak butiran pasir di pantai dengan tanganku. Ingin rasanya kuambil segenggam pasir dan kusumpal ke mulut-mulut mereka yang mengatakan bahwa alam adalah sahabat manusia. Mana bukti persahabatan antara alam dan manusia? Nyatanya mereka sama sekali tidak mengerti keadaanku. Bukankah sahabat itu saling mengerti, saling menolong? Oh Tuhan, aku mulai gila.

Kegilaanku semakin menjadi. Aku berteriak dan meracau tidak karuan. Bagaimana aku tidak semakin gila. Memori itu kini membungkus rapat otakku. Aku melihat dengan jelas sosokmu yang tengah membual soal janji-janji masa depan, kemudian melanggar, berkhianat, pergi, dan berbahagia dengan hati yang lain. Sedangkan aku, terluka, terhempas, tercampakkan tiada arti. Bagaimana mungkin aku tak membenci kehidupan? Bagaimana mungkin aku tidak ingin mati? Bukankah hanya kematian yang dapat mengakhiri penderitaanku?

Aku terus meratap, berteriak dan meracau. Namun malaikat maut belum juga menjemputku. Ah sudahlah… mungkin waktuku memang belum tiba. Mungkin aku masih digariskan hidup agar bisa melihatmu jatuh terjungkal dan terluka parah suatu saat nanti. Kini tugasku adalah memastikan kakiku agar tetap melangkah, memastikan mataku agar tetap menatap ke depan, dan memastikan hatiku untuk tetap percaya bahwa ada keajaiban yang telah Tuhan siapkan.

Advertisement

Kini aku bangkit dan kembali melangkah. Aku berjanji tak akan menoleh ke arah jejak kakiku lagi.