Dulu aku masih belum bisa merasakan indahnya masa SMA seperti kebanyakan orang mengatakannya. Yang ada didalam fikiran ku, mereka semua terlalu banyak mengonsumsi cerita-cerita romantis dan mengada-ngada soal indahnya masa SMA. Aku memang tidak seperti siswi SMA lainnya yang selalu mengikuti trend, yang selalu update, yang selalu merawat tubuhnya dengan melakukan hal rutin di salon, yang selalu memikirkan pakaian dan barang barang yang mereka pakai. Aku adalah sisiwi SMA yang terkesan sangat sederhana, yang aku fikirkan hanya bagaimana aku bisa mengikuti pelajaran tanpa harus remedial setelah ulangan harian.

Dan belum lama ini aku mulai merasakan apa yang dulu sempat aku ragukan. Semenjak ada dirinya, kehidupan masa terakhir ku di SMA terasa begitu berwarna. Dia berada tidak jauh dari meja ku, selama ini aku hanya mengenal nama dan nomor absennya saja. Lama-kelamaan dia mulai mengajak ku berbicara dan berdiskusi untuk menyelesaikan tugas yang di berikan guru. Entah dari mana asalnya, aku mulai merasa kenyamanan saat bersamanya. Selalu ingin berbicara mengenai hal apapun padanya. Aku menyukai tawanya saat aku melakukan kesalahan, yang membuat aku ingin selalu melakukan kesalahan tersebut. Setelah puas menertawai ku dia pun tersenyum lalu membenarkan kesalahan yang aku lakukan.

Namun, aku menyadari aku jatuh cinta pada seseorang yang hanya mampu aku gapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang hanya sanggup ku nikmati bayangannya dan tidak akan pernah bisa ku miliki dirinya. Seseorang yang hadir bagai bintang jatuh, sekejap kemudian menghilang sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa ku kirim isyarat sehalus udara. Seseorang yang selalu ku sebut dalam doa dan berharap tuhan menyampaikan padanya.

Aku tidak pernah sadar dan seakan-akan tidak mengetahui kenyataan yang ada. Aku melupakan sesuatu yang harusnya aku ingat sebelum aku jatuh terlalu dalam. Dia, dia adalah seseorang yang tidak akan pernah memilih ku. Dia adalah seseorang yang banyak sekali memiliki penggemar. Aku bahkan tidak menyadari itu semua, aku terhanyut dalam aliran yang selalu ingin aku ikuti kemana arusnya mengalir. Dan disinilah aku terbangun dari mimpi yang tidak mungkin terwujud, mimpi yang seharusnya tidak datang dikehidupan ku.

Aku berterima kasih padamu, terlah hadir memberi warna yang indah walaupun kini warna itu berubah menjadi warna yang tidak indah lagi. Mengenal mu membuat ku merasakan cinta sekaligus luka di masa SMA. Sekali lagi aku ucapkan, terima kasih cinta masa SMA ku.