Ada ungkapan, “kalo teman ya teman, kalo musuh ya musuh. Jangan di depan teman, di belakang musuh”. Entah apakah ungkapan itu masih berlaku? Mungkin iya buat segelintir orang. Mungkin tidak bagi segelintir yang lain.

Entahlah, mau disebut teman, kawan atau sahabat. Saya gak tertarik pada istilahnya. Tapi lebih tertaruik pada substansinya, pada maknanya. Mau teman, kawan, atau sahabat, silakan Anda memanggil saya apapun. Tapi jauh lebih penting menimbang tentang makna…. Ya makna teman, kawan atau sahabat.

Kok begitu, emang apa pentingnya makna teman?
Iya makna berteman, berkawan atau bersahabat itu penting. Karena berapa banyak pertemanan yang rusak karena gak tahu substansinya, gak tau maknanya. Ada teman yang datang karena ada perlunya doang, ada teman yang di depan baik tapi di belakangnya jelek.

Dulu, kita yang bilang bahwa Si A adalah sahabat yang gue cari, teman yang gue dambain. Ternyata hari ini, Si A gak ada di dekat kita. Bahkan rimbanya pun gak kita ketahui. Tapi ternyata, seiring berjalannya waktu, ada teman yang saling melupakan satu sama lain. Ada yang menjauh, ada yang jarang mau ngumpul. Bahkan ada yang meremehkan, merendahkan kita. Apa itu makna teman, makan sahabat?

ASAL KITA TAHU AJA, TEMAN atau SAHABAT model begitu udah gak zamannya lagi. Teman atau sahabat hari ini, gak bicara soal “dari mana” kita. Tapi bicara “mau kemana” kita. Teman atau sahabat hari ini gak punya pretensi buruk terhadap teman yang lain. Teman atau sahabat itu harus cair. Dalam keadaan apapun. Baik lupa orangnya, lupa tampangnya atau gak pernah ketemu sekalipun. Mereka tetap teman atau sahabat kita. Gampang kan, memaknai seorang teman atau sahabat.

Advertisement

Jadi gimana kita memaknai teman atau sahabat hari ini?
Gampang aja. Sederhana sekali. Teman atau sahabat itu special. Karena teman menyumbang tawa di hari-hari kita. Karena sahabat itu menyenangkan, memberi warna hari-hari kita. Baik saat tatap muka, kopi darat atau di dunia maya. Lewat WA, lewat facebook dan sebagainya. TEMAN atau SAHABAT itu selalu ada, menghidupkan hari-hari kita yang udah sumuk atau stress ama pekerjaan, ama berbagai urusan sendiri.

Teman itu gak harus 1 atau 2 orang. Sekampung juga boleh jadi teman. Sahabat itu juga bukan hanya orang yang sekerjaan ama kita, tapi mereka yang pernah satu sekolah, satu kampus, satu organisasi. TEMAN atau SAHABAT itu LUAS, seperti alam semesta. Karena semuanya adalah anugerah terindah dari Tuhan. Iya nggak? ….

Lantas, berapa harga yang kita bisa berikan ke teman atau sahabat?
Teman atau sahabat, apalah namanya. Harganya tidak ternilai. Teman atau sahabat itu harta yang tak ternilai. Pangkat, jabatan, harta atau apapun materi yang kita punya pasti ada masanya. Semua materi yang kita punya hari ini terlalu mudah expired atau hilang jika waktunya tiba. Tapi teman atau sahabat akan tetap ada. Iya, teman kamu, teman kita akan tetap ada. Kapanpun dan bagaimanapun.

Sahabat,
Berteman, berkawan atau bersahabat pun juga gak harus selalu ada di setiap saat. Karena kita bukan istri atau suaminya. Teman juga gak perlu menjadi tempat keluh-kesah, capek kali. Kawan juga gak usah jadi “orang tua” yang maunya menasihati, pegel kali dengernya. Sahabat juga bukan orang yang selalu memberi solusi atas masalah kita, emang siapa kita?

TEMAN atau SAHABAT itu cukup yang mampu menyenangkan hati, menyegarkan pikiran. Dan mampu mengisi hari-hari kita lebih bergairah, yang bisa mengajak kita keluar dari rutinitas. Setuju gak?

Teman atau sahabat, bukan orang yang selalu hadir saat dibutuhkan. Bukan juga hubungan yang tanpa perbedaan. Bukan juga tanpa egoism. Semuanya bisa ada dalam pertemanan, persahabatan. Tapi apapun yang terjadi, teman atau sabahat selalu bisa membuat tawa saat dibutuhkan. Teman yang gak mudah sakit hati ketika becanda. Sahabat bukan cuma soal memahami dan mengerti. Tapi lebih dari itu, sahabat adalah teman yang bisa menerima hal yang tidak mungkin dimengerti atau dipahami oleh orang lain.

Sahabat ketahuilah, “pertemanan memang bukan hal besar karena ia adalah jutaan hal-hal kecil – friendship isn’t a big thing but it’s a million little things.” Karena itu, bahasa persahabatan bukanlah kata-kata, melainkan makna – the language of friendship is not words but meanings.

Hari ini dan esok, carilah teman atau sahabat kita. Dekati dan ajak ia ngobrol di “warung hati nurani” yang kita punya. Ringan, rileks dan menyenangkan. Karena esok, kita belum tentu bertemu lagi dengan mereka, teman atau sahabat kita.

Mendekatkan ke teman atau sabahat kita, dimanapun. Hampiri mereka dan bisikkan di telinganya, “TERIMA KASIH, kamu telah mau menjadi sahabatku”. Alahmdulillah kalo begitu…. Salam Sahabat.
#BelajarDariOrangGoblok