Halo apa kabarmu? Ku harap kau selalu dalam keadaan baik. Tenang saja aku takkan membencimu meski kau sempat goreskan luka kala itu. Kita belum sempat berkenalan lebih jauh tapi sayangnya perkataanmu menyakitiku.

Aku sudah lupa siapa namamu, berapa umurmu dan di mana asalmu. Yang ku tahu kau adalah , seorang laki – laki yang (mungkin) terlihat sempurna. Laki – laki tinggi berkulit putih, berambut pirang dan kacamata bulat andalanmu. Bisa ku bayangkan seperti itu. Sayangnya itu berlebihan jika ku sandingkan denganmu. Entah kenapa aku merasa jijik denganmu, seakan – akan kau terlihat sempurna di dunia. Bukannya aku mencelamu seperti kau mencelaku waktu itu, tapi sungguh ini tulus dari hati. Bukannya kau berasal dari tanah namun mengapa kau bersifat seperti langit? Meski cita – cita harus digapai setinggi langit bukan berarti kau harus bersifat seperti langit, bukan? Ah seperti penceramah saja aku ini!

Kali ini ku ucapkan terima kasih padamu yang dulu sempat mencelaku. Karena ucapanmu aku tahu bagimana menjaga lisan agar orang lain tak terluka. Aku juga sadar ternyata hijabku juga belum bisa menjaga lisan orang lain. Karenamu aku sadar, ternyata aku masih banyak kekurangan bahkan bukan sekedar duniawi. Tak banyak kata yang ingin ku ucapkan padamu, hanya ini pesanku untukmu “Jagalah lisanmu, kau tahu lisan lebih menyakitkan daripada sekedar patah hati”.