Satu dua itik kembali digiring ke kandang, sayup-sayup hentakan tongkat yang dibawa petani dibelakang mengatur barisan peliharan itu. Di seberang suara deru motor berbalapan mengisi keriuhan senja. Duduk di teras sambil menegak secangkir teh hangat dan sesekali menatap langit yang mulai memerah tanda mentari akan berpamitan. Udara semakin dingin mendekati petang, akasa menghempas lebih banyak angin dari sebelumnya. Pertiwi tersenyum menyaksikan tiap detik keindahan yang di berikan semesta.

Indah sekali menyaksikan manifestasi yang tiap saat masih di berikan semesta untuk manusia. Angin yang luar biasa segar, tanah yang menghangatkan, air dan api untuk membantu manusia bertahan hidup. Bahan makanan yang melimpah ruah.

Terimakasih Semesta! Pernahkan kalian berfikir untuk mengucapkan kalimat itu saat mejelang tidur atau paling tidak saat masih diijinkan bangun dipagi hari? Jika belum, sempatkanlah. Alam Semesta adalah ibu, ayah dan rumah untuk semua manusia.

Manusia wajib hukumnya menjaga kedua orang tua dan rumahnya bukan? Jadi jangan kotori, jangan rusak, jangan nodai semesta dengan hal-hal yang buruk. Manusia tidak boleh hanya ingin enaknya saja, ingin tinggal gratis, makan minum sudah disediakan. Tapi tidak sedikitpun mau menjaga apa yang telah mengasihi mereka.

Mengeluh pasangan yang tidak perhatian lagi, cinta bertepuk sebelah tangan, menangisi orang yang meninggalkan kita, merasa memperdulikan orang lain tapi ia tak memperhatikan kita, apa rasanya sedih? Tentu saja! Namun apakah kalian pernah berfikir bagaimana rasanya semesta yang bahkan sejak kalian belum lahir, ia telah memberikan segala yang kalian butuhkan dimuka bumi ini, namun sampai saat ini satu kata terimakasih saja tidak sempat meluncur dari mulut kalian kepada bumi pertiwi ini?

Advertisement

Sebagai makhluk dengan kemampuan berfikir yang baik, mari renungkanlah. Jangan menjadi makhluk egois dengan beragam alasan untuk mempercantik semesta namun mengabaikan dampak yang akan terjadi. Indonesia telah cantik sebelum pembangunan gedung-gedung dan reklamasi dilakukan. Ia telah menarik banyak wisatawan dengan sawah, adat dan kebudayaannya tanpa perlu diiming-imingi kecantikan buatan. Kumohon hentikan oprasi plastic pada Indonesiaku. Semesta, maafkan kami, kebodohan kami menghancurkanmu.

Kuucapkan Terimakasih semesta ! Kehidupan yang luar biasa kau suguhkan pada kami yang tak pernah memperdulikanmu. Kuharap kau masih menyayangi kami.