Ku tutup rapat kehidupanku, ku biarkan jiwa menetap di ruang kosong bersama dua buah sayap yang pernah Dia kembalikan.

Sesak, gelap dan sepi tak kulepaskan dalam genggamanku. Tak ku izinkan Sore singgah ke dalam dunia kosong yang ku tempati.

Namun,

Sore itu, memaksaku untuk melepaskan sayap-sayap usang yang ku peluk erat di dadaku.

Sore itu, memaksaku untuk menuangkan kepalan kepedihan yang berada di tanganku.

Advertisement

Sore itu, memaksaku untuk membuka pintu kegelapan yang ku kunci rapat bersama jiwaku.

Haruskah,

Kuizinkan Sore meraih sayap-sayap usang yang berada dalam dekapanku.

Kuizinkan Sore menyapu semua rasa sakit yang ku jaga dalam genggamanku.

Kuizinkan Sore membuka pintu kehidupan panjangku yang getir.

Dan,

Sore meraih tanganku untuk menuntunku. Ku beranikan kakiku melangkah meninggalkan duniaku yang sesak, gelap, dan sepi itu. Ku coba untuk membuka mata, ku saksikan sang raja siang berada di ufuk timur, tersenyum dan menyapaku. Sinar hangatnya masuk hingga kedalam dadaku. Angin kesejukan, secara bergantian menyentuh jari-jariku. Aroma kenyamanan, perlahan menghapuskan sang Lalu yang ada di benakku.

Wahai Sore.. Sinar hangat itu, angin kesejukkan itu, dan aroma kenyamanan itu masih sangat kukenal karena Engkau Juga masih milikku.