Pertemuan berawal dari pernikahan kaka kandungku. Awalnya, aku hanya menganggap pria ini sebagai abang angkatku. Dia sering tidur di rumah ketika papa pergi dinas ke luar kota. Seiring waktu berlalu. Ternyata, aku dijadikan cewek taruhan oleh 3 abang angkatku yang lainnya. Ketika pria itu diajak, dia menolak. Namun, satu di antara tiga tak ada yang mampu menaklukkan hatiku.

Waktu berputar begitu cepat. Masuk tahun ketiga kami kenalan, aku dan dia jadian. Detik ini sudah berjalan 2 tahun 6 bulan 23 hari. Begitu banyak lika-liku kami berdua lalui. Mulai dari perbedaan agama hingga pertentangan keluarga serta kasta dan adat. Hampir setahun lebih tak pernah bertemu, rindu ini hanya mampu ku pendam dan ku kubur dalam-dalam. Aku sering tak di beri kabar akibat kesibukannya.

Kejujuran selalu jadi satu pegangan terkuat dalam jalinan hubungan di antara kami. Meski terkadang pahit, namun itulah indahnya kejujuran. Kami berdua selalu percaya bahwa kejujuran dan kepercayaan merupakan kunci untuk menuju kedamaian antara dua hati. Orangtua kami memang tak pernah setuju, meski terkadang ada detik dimana kami mencapai titik kepasrahan, namun pada detik itu pula aku berdoa pada sang khalik.

“Allah, jika memang dia jodohku, sandingkan aku dengannya, satukan kami dalam pelukan yang suci, bukan dalam kesulitan untuk bertemu dan bukan pula dalam kesulitan untuk bersatu, ringankan raga dan jiwa ini untuk dapat saling menjaga, melindungi serta menerima dengan penuh keikhlasan dan kerendahan. Amin"

Aku dan dia, terlahir dari masa lalu yang begitu kelam. Kami mengetahui semua masing-masing dari kisah kehidupan di masa lalu itu, mencoba untuk membuka lembaran hidup yang baru tanpa menyangkut paut kan masa lalu dan saling menyemangati untuk bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan bersama-sama bangun dari keterpurukan.

Advertisement

Kami dua individu yang penuh kekurangan. Namun saling menutupi kekurangan dengan menonjolkan kelebihan pasangan satu sama lain. Meski jauh, jarang bertemu, bertatap muka dan saling menjaga, kami tetap konsisten menjaga komunikasi, saling share di kala waktu kosong, tertawa bersama ketika berkomunikasi dan melupakan segala beban hidup, kejenuhan dan kepenatan yang mendera dalam nafas yang hanya sementara ini.

Ada kalanya aku menyadari bahwa aku manusia yang penuh dengan kekurangan, penuh dengan kesalahan, kelabilan dan lupa yang kritis. Namun, berjuta kali pula dia menyemangatiku dan meyakinkanku bahwa bukan kekuranganku yang ia permasalahkan melainkan menerima dan menutupi kekuranganku dengan semua kelebihan yang ku miliki. Setiap detik ia selalu meyakinkanku bahwa aku bisa, aku kuat dan mampu. Dia menyadarkan aku, betapa aku sangat beruntung dan berharga.