Kepada masa lalu yang sempat kutangisi…

Samar-samar aku melihat sesosok wanita terisak di dalam tunduknya. Di balik lutut dia menyembunyikan wajahnya. Lama dia tak berkutik. Lalu ketika dia akhirnya mengangkat kepala, yang terlihat adalah sorot mata tersakiti. Wajahnya merah, matanya bengkak, ekspresinya seperti enggan menjalani hari.

Di lain waktu, kembali aku melihat wanita itu. Namun kali ini dia tidak terisak, tidak juga menyembunyikan wajahnya di balik lutut. Kali ini dia menangis dengan kencang, bagai anak kecil yang ditinggal ibunya pergi. Dia meraung-raung dan mengucapkan kata-kata yang tidak terdengar jelas, samar tertutupi suara tangisnya. Wajahnya merah dengan raut yang susah dideskripsikan. Antara marah, sedih, kecewa, dan tersakiti semua bercampur jadi satu.

Aku hanya diam melihatnya dari jauh. Entah mengapa aku seakan bisa merasakan apa yang dia rasakan. Rasa sakit yang begitu dalam. Matanya begitu nyata merefleksikan kekecewaan. Lama aku memperhatikannya. Terkadang dia menyebut sebuah nama. Lambat-lambat kemudian aku melangkah mendekatinya. Dia memandangku dengan mata nanar. Mata yang menjelaskan sakitnya dikhianati. Oh, jadi ini semua karena pengkhianatan? Semakin aku melihat lebih dalam ke matanya, semakin aku bisa merasakan sakit yang dia rasakan. Sebuah kompilasi sempurna antara kesedihan, kemarahan, kekecewaan, dan keputusasaan yang sanggup mematahkan hati hingga berkeping-keping.

Wanita yang menangis tadi adalah aku. Ya, itu aku di masa lalu. Ketika aku harus merasakan hal yang sama sekali tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Kala itu, aku begitu rapuh. Tak tau harus bagaimana menghadapi hari-hari esok. Aku ingin meyelamatkan diriku dengan pergi ke sebuah tempat di mana aku bisa melupakan semuanya. Aku berkali-kali berharap ini hanyalah mimpi. Namun semuanya percuma. Tak ada jalan keluar lain kecuali menerimanya pelan-pelan sebagai sebuah takdir dari Tuhan.

Advertisement

Kini, setelah waktu berlalu, aku hanya tersenyum kecil setiap kali mengingat masa laluku. Sebuah kisah cinta yang sama sekali tidak berakhir bahagia. Tapi sedikitpun tidak ada rasa sesal dalam hatiku. Aku bersyukur karena aku mengalaminya. Pengalaman pahit itu kini menuntunku pada kedewasaan. Aku melihat alasan yang benar mengapa sebuah perpisahan harus terjadi bahkan dengan cara yang sangat menyakitkan seperti sebuah pengkhianatan. Aku menyadari bahwa kisah cinta yang berakhir tidak bahagia sesungguhnya bukanlah sebuah akhir cerita. Justru itu adalah gerbang menuju kisah cinta sejati. Sebab jika kita tidak pernah keluar dari kisah cinta yang salah, kita tidak akan pernah merasakan indahnya cinta yang sejati, bukan?

Tuhan sungguh Maha Baik. Dia tidak mebiarkanmu berlama-lama mencintai orang yang salah. Di depan sana, seseorang yang akan mencintai dan memperlakukanmu dengan benar sudah lama menunggu. Maka terimalah patah hatimu dengan ikhlas lalu berjalanlah ke arahnya dengan senyum terkembang dan rasakanlah dalam hatimu, "Jadi ini alasan Tuhan membuatku patah hati". Ketika akhirnya kamu telah sampai di titik itu, bukan lagi air mata kesedihan yang akan tumpah, melainkan hanya sebuah tangis haru penuh syukur.

Pernah dikhianati bukanlah sesuatu yang patut disesali. Berterima kasihlah pada orang yang mengkhianati cinta tulusmu. Sebab karenanya, kini kamu bisa merasakan indahnya cinta sejati. Sungguh, pada akhirnya, semua akan terbayar tuntas. 🙂