Hanya selembar kertas kosong yang bisa kutatap dalam diam, bukan lagi wajahmu atau angan tentangmu. Aku sudah tidak tahu bagaimana hati ini terbentuk, semua hancur lebur bersama seluruh angan-angan tentangmu. Bilamana kau memang berniat pergi, silahkan saja, aku tak pernah memaksamu berdiri di sampingku atau bahkan memaksamu tetap bertahan dalam hubungan yang bahkan kau sendiripun tidak bisa menjelaskan.

Kau tahu? Mencintaimu itu ibarat menancapkan duri ke dalam dagingku sendiri, menyakitkan, namun aku tak bisa berhenti melakukannya. Dan saat ini, ketika langit bergemuruh ingin melunturkan tetes-tetes air ke permukaan bumi, untuk pertama kalinya aku mengatakan, aku benar-benar menyesal pernah mengenalmu, pernah masuk ke hidupmu.

Kau tak butuh aku mendampingimu, yang kau butuhkan hanya ragaku, bukan hatiku. Kau tak pernah membutuhkan kehadiranku, yang kau butuhkan hanya manfaat dari adanya diriku. Ah sudahlah, aku sendiripun tak bisa lagi menggambarkan betapa kekecewaan ini menelusup kedalam hati.

Tanpa adanya diriku, kau masih bisa melanjutkan hidup bukan? Kesadaranku masih belum hilang seluruhnya, aku masih sadar bahwa diriku memang tak begitu berarti bagimu.

Hei kau, aku tak pernah menginginkan kau membaca tulisanku, atau menyelinap sedikit saja ke dalam karyaku, jadi biarkan saja tulisan ini ada menjadi kenangan yang seumur hidup akan kusimpan.

Advertisement

Kau yang pernah menjadikan diriku seolah berharga, terima kasih.

Aku ingin menyudahinya..