Malam ini aku melihatmu dalam memoriku. Kita bercengkerama dalam canda dan tawa. Sesekali kamu mencoba menyentuh hatiku dengan kata-kata tulus yang dulu tak sempat kamu sampaikan. Tahukah kamu saat ini aku tersenyum karena aku bisa melepaskan sejuta tanyaku yang selama ini menghanyutkan aku dalam arus penasaranku?. Aku tersenyum karena akhirnya sejuta tanyaku itu terjawab. Selama ini aku membiarkan sejuta tanyaku terbenam tanpa suara jauh di lubuk hatiku. Aku membiarkannya berada di sana demi hubungan persahabatan kita. Tidak, aku tidak pernah berani menanyakannya padamu, aku juga tak mampu menahan di saat langkah kaki itu telah membawamu pergi menuju hatinya, aku tidak mampu walau hatiku berteriak sekuatnya.

Aku sungguh merindukanmu, di setiap malam aku bermimpi agar suatu hari kita akan bertemu lagi seperti saat ini. Iya, Tuhan baik sekali kepadaku karena Dia telah membawa langkah kakimu menuju ke arahku lagi. Walau keadaan telah berubah jauh berbeda, tetapi sungguh aku bersyukur kepadaNya karena akhirnya kamu menyampaikan kepadaku sebuah kenyataan yang seharusnya aku ketahui sejak dulu. Cinta, kamu bilang di sana pernah ada cinta untuk aku, lalu kamu menyeretku ke dalam sebuah memori yang mengingatkanku pada banyak kejadian saat kita bersama dulu. Aku teringat waktu itu, di kala matahari terbenam indah di Barat, kamu menyeka air mataku yang berderai karena kehilangan Ibuku yang telah pergi untuk selamanya. Saat itu aku benar-benar terbawa arus kesedihan yang begitu dalam, dan kamu adalah satu-satunya manusia yang bisa menenangkanku, “ah…. bolehkah persahabatan kita tidak sekedar menjadi sebuah persahabatan?” tanyaku dalam hati saat itu. Lalu kamu menghiburku dengan menarik tanganku, mengajakku berlari menyusuri pantai tanpa ombak laut pasang. Ketika itu aku merasa terhibur dan melupakan sedihku walau sesaat. Aku menapaki satu per satu jejak langkah kaki yang kau tinggalkan di pasir pantai. Diam-diam aku berdoa semoga aku bisa selalu melangkah bersama kamu.

Ya… itu adalah kenangan masa lalu, karena malam ini kita hanya bisa mengikuti arus kehidupan yang sesungguhnya. Kita hanya bisa saling bercerita, mengungkap beberapa pertanyaan dan jawaban yang sudah sangat terlambat untuk kita bahas kembali. Tetapi entah kenapa, aku kembali tersenyum malam ini, Iya… berbicara denganmu selalu saja bisa membuatku tersenyum. Aku bahagia malam ini, semoga memoriku tentangmu bisa membawaku ke alam mimpi agar aku bisa memelukmu di sana.

Kamu…. terima kasih atas segala yang pernah kamu beri untuk aku. Biarkan aku mengucap terima kasih agar kamu tahu betapa berharganya kamu untuk aku. Kamu telah membuat aku bahagia walau langkah kaki kita tidak bisa beriringan seperti harapanku. Persahabatan kita sudah lebih dari sekedar kasih dan sayang sepasang anak manusia yang ditakdirkan bersama. Kita saling mengasihi dengan doa, menyayangi dengan harap, dan berpelukan dalam mimpi. Biarlah memori kita hanyut bersama arus perubahan kenyataan kehidupan. Biarlah langkah kaki itu tidak bisa aku iringi dari belakang. Setidaknya aku masih bisa mengenangmu di balik sinar indah saat matahari terbenam.