Ini masih tentangmu, tentang kamu yang sempat mengetuk pintu hatiku.

Mungkin ini terasa basi ketika sampai hari ini aku masih mengeluh tentangmu, tentang kamu yang (mungkin) sudah pergi dari hidupku sejak beberapa hari yang lalu. Entah mengapa, aku tak bisa lupa tentangmu, sedikit percakapan kita kala itu. Aku mulai risih ketika kau tak hadir dalam ponselku, beberapa kali kucek ponselku, oh itu bukan kamu. Baiklah, waktu menyudahinya untukku berharap.

Aku masih ingat malam itu, kau sempat tawarkan padaku tentang sesuatu yang bisa kusebut masa depan. Sayangnya itu hanya berlangsung tak lebih dari sepuluh menit. Ya kau hanya bercanda tentang semua itu. Aku tak menyalahkanmu, mungkin aku yang berlebihan menanggapi leluconmu yang buatku sedikit berharap. Tetapi bisakah kau beri penjelasan padaku? Tidak, mungkin tentang perasaanmu padaku? Maaf, jika aku lancang mengatakan ini padamu. Rasanya tidak adil jika aku saja yang berperasaan padamu.

Tuhan memang adil, waktu yang jawab semua tanyaku. Tak perlu kau jelaskan padaku tentang perasaanmu, aku paham dan sangat paham. Kau sudah jatuh cinta pada wanita itu,mungkin aku terlalu pelan menggunakan jurusku untuk mendapatkanmu. Sudahlah, aku tak ingin lagi berlebihan padamu. Cukup ini yang terakhir, ya melihatmu berbicara tentangnya dan tentang masa depanmu dengannya.