Menyisir jalan sepanjang kota siang ini sungguh bukan pekerjaan yang menyenangkan. Semua rutinitas terasa menguras fikiran juga tenaga akhir – akhir ini. Waktu bersantai dan beristirahat kian menyusut, menguap di terpa segala kegiatan yang tak henti – henti mengiringi. Rasanya 24 jam yang telah diberikan-Nya selalu terasa kurang.

Namun di antara sela kesibukan dan rutinitas itu, aku selalu sempat menghela nafas dan mengucap syukur pada-Nya. Di segala kepenatan dan tekanan pekerjaan, aku masih berkesempatan menikmati rasa rindu ini. Semua itu tak serta merta membunuh perasaan ini, semua rutinitas yang padat tak lantas menjadikan hatiku kaku dan mati. Entah dari mana semua ini berawal, yang pastinya rindu ini telah tercipta.

Aku sadar, rindu itu bukan masalah fisik. Rindu itu masalah hati. Jadi sekuat apapun berusaha menikamnya bertubi – tubi dengan pekerjaan fisik, ia tak akan hilang. Kita hanya sejenak terlena dengan kelelahan fisik, bukan berarti tak merasa. Rindu itu tetap di sana, kita hanya tengah lupa saja.

Menikmatinya membuat aku terbiasa untuk melembutkan hati. Meski aku faham, perasaan ini menyapa tanpa aku sadar kapan kali pertama ketukannya datang. Namun sekalipun begitu, aku tak serta merta menolak kehadirannya. Menikmati rasa ini membuat aku sadar, bahwa rindu ini bukti bahwa hati ini tak mati.

Izinkan aku sebagai wanita biasa, tetap menjaganya dalam perasaan yang sesungguhnya. Izinkan aku membungkusnya dengan cantik dan menitipkannya pada sebaik – baiknya cinta. Biarkan semua rindu ini tetap bersemi seindah sakura hari ini, akan tetap cantik meski aku belum pernah menatapnya langsung. Biarlah ia bersemi sesuai waktu yang telah ditentukan sebagaimana mestinya.

Advertisement

Aku masih selalu dalam rasa rindu yang sama, meski mungkin rindu ini tiada arti. Terima kasih telah menitipkan rindu ini, semoga suatu saat aku faham kerinduan ini milik siapa.