Untuk perempuan, apalagi yang tidak mengembirakan jika di tawarkan menuju jenjang pernikahan bersama Lelaki yang ia cintai?

Malam itu, malam paling panjang yang aku rasakan untuk mengecap setiap ucapan yang kamu lontarkan. Aku berusaha menelaah setiap makna dari kalimat tegas yang sedikit menyayat perasaan. Miris, pikirku. Baru saja ku jumpai lelaki yang memperlakukanku bak bidadari sedemikian rupa. Tetapi, selalu membawaku dalam kekhawatiran akan sebuah perpisahan. Aku terlalu cemas kehilangan sampai lupa cara untuk berjuang mempertahankan.

Padahal kamu dengan mantapnya mengajakku berjuang, tapi aku dengan takutnya melangkah maju bersama. Kamu meyakinkan aku bahwa kamulah rumah yang aku cari. Kamulah rumah yang selama ini aku impikan. Kamulah rumah yang akan meneduhkanku dari teriknya mentari, menghangatkanku dari dinginnya hujan. Kamu rumah yang akan menyamankan dan menentramkanku.

Kamu bahkan bisa menjadi kopi yang aku sukai. Walaupun bakal terasa pahit tetapi selalu terdapat nikmat yang manis di akhirnya. Seperti kopi yang bisa membuatku rileks kala penat dan jenuh menyergap.

Kamu berjanji bukanlah cafe yang hanya menawarkanku tongkrongan sejenak lalu mengusirku pergi kala tenggat waktu menyapa. Aku begitu sumringah ketika mendapatkan tawaran pernikahan darimu. Tak menapik, usia kita bukanlah waktu yang pantas untuk sebuah gurauan pernikahan. Celoteh tentang masa depan sungguhlah tampak begitu menggemaskan.

Advertisement

Aku terperangah dengan semua ucapanmu, benarkah lelaki ini bersungguh-sungguh? Lantas, siapkah kita berdua menghadapi segala resiko jika kelak bersikeras untuk tetap bersama? Aku justru sungguh tidak siap menerima kenyataan.

Andai saja aku salah satu dari semua perempuan yang merasa paling bahagia mendapati kekasihnya mengutarakan niat untuk serius melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan, hanya saja aku malah menjadi salah satu perempuan yang bahagia sekaligus pilu mendengarkan niat tulus kekasihnya. Bukan tidak mungkin, kita sedang bermain api yang tanpa kita sadari bisa membumihanguskan perasaan.

Malam itu, malam yang tak ingin ku biarkan pergi. Aku ingin tetap tinggal menghabiskan banyak cerita dan berceloteh panjang tentang masa depan denganmu. Memikirkan bagaimana jadinya bila aku dan kamu dipersatukan dalam mahligai rumah tangga. Bagaimana semesta akhirnya menyetujui rencana kita lalu menjadikannya nyata.

Tentu saja harapan kita tidak dapat mendustakan keadaan. Kita di pertemukan dalam sebuah perbedaan yang terlalu kontras. Bahkan namaku dan namamu pun sudah bisa menyatakan arti beda itu sesungguhnya. Lantas mengapa kamu begitu lantang menyuarakan niat untuk menikahiku? Jika jelas hubungan kita malah akan menjumpai pertentangan. Aku sadar sayang, dunia kita terlalu berbanding terbalik. Aku yang tak mampu menyesuaikan diri untuk mengamit manja jemarimu, kala amarah mu memuncak. Aku yang batu tak dapat menenangkan debur ombak cemburumu. Tapi masih saja kamu bersikeras aku mampu bersanding denganmu

Lalu, kamu berjanji akan segera memperkenalkanku kepada keluargamu. Bukankah setiap perempuan akan melonjak kegirangan jika mendapati hal itu. Namun sayangnya, aku bukanlah salah satu perempuan yang bisa melonjak kegirangan justru cemasku makin parah. Sedemikian rupa rasa kalut merayap membungkus diriku. Bolehkah ku lari saja? Bolehkah ku menghilang saja? Aku tak sanggup melewati semak belukar yang membuatku menjerit sakit setiap melangkah.

Ah, sayang! Maafkanlah aku yang pengecut ini. Aku yang dulu berkata siap berjuang bersama kini seolah mempertanyakan “ apakah ini benar berjuang bersama? “ . Lantas mengapa rasanya seperti berkorban. Aku yang perempuan terlalu lemah karena mencintaimu tetapi begitu kuat karena mencintai Tuhanku. Perumpamaan apakah yang ada dari indahnya salam “ Syalom “ dan “ Assalamualaikum”? Adakah jalan yang dapat ditemukan dari bunyi lonceng gerejaku dan gema adzan mesjidmu? Dapatkah kita menemukan arah yang kita tuju? Bukankah akan banyak duri serta kerikil yang melukai kala kita tetap melangkah? Sanggupkah kita melaluinya meski harus berdarah-darah bahkan terjerambab berulangkali? Ah, memikirkannya sudah membuat lututku lemas. Gigiku gemelutuk menggigil ketakutan.

Kamu tahu sayang, aku bersyukur karena menemukan lelaki sepertimu. Kamu yang langit mengemas bumi begitu apik. Sehingga semesta begitu menawan untuk ku nikmati setiap harinya. Bahkan akhirnya, aku terus berceloteh panjang bersama Tuhanku, seakan merengek memintamu untuk akhirnya menjadi pendamping hidupku. Meminta maaf kepadaNya karena mencintai lelaki yang mungkin tidak di kenalNya. Terkadang malah gusar sendiri , mempertanyakan mengapa mempertemukan lalu memaksa untuk memisahkan?

Satu hal yang perlu kamu tahu sayang, aku berterimakasih untuk niat tulusmu. Terimakasih karena kamu memikirkan masa depan untuk kita berdua jalani kelak. Terimakasih telah merancang sedemikian rupa tentang bahagia rumah tangga kita nanti. Terimakasih telah memercikan udara segar . Terimakasih menjadikanku sebagai spons yang hidup setelah sekian lama mengering dan berkerut.

Terimakasih telah menjadikanku sebagai seutuhnya perempuan yang pantas dipinang. Terimakasih menjadikanku selayaknya wanita yang pantas di perjuangkan.

Terimakasih.

Untukmu Lelaki yang kini masih enggan melepas genggaman tangannya.