Aku yang dulu mencintaimu sedalamnya hati ini, namun tiba-tiba kau pergi karena pertengkaran kecil hingga hatimu tertutup rapat dan tak ada celah lagi untuk ku berlabuh di hatimu.

Kamu adalah lelaki yang meruntuhkan pertahanan diriku untuk sendiri, masih ku ingat waktu itu saat kau datang menghampiri. Awalnya aku enggan menanggapi tapi lama-lama kamu buat aku selalu menanti kabar darimu. Hingga akhirnya kamu mampu selami hatiku. Selamat ku ucapkan.

Hari demi hari kita lewati dan ikatan sepasang kekasih pun terjalin, hidupku terasa lebih bersemangat akan hadir mu dulu. Seiring berjalnnya waktu, aku sepenuhnya jatuh hati padamu, dan aku yakin kaupun begitu. Namun, pelangi di kepala manusia tak selalu sama, persepsi kita sering terbentur hingga memicu pertengkaran kecil.

Apalagi, jauhnya jarak yang memisahkan kita. Aku yang terlalu rindu padamu sering tak bisa menahan diri hingga membuatmu lama-lama risih akan kabar dariku.

Lalu…….

Advertisement

Malam itu, disaat aku terselimuti rindu mendalam kau putuskan jalinan yang kamu buat. Luluh lantahlah semua harapan ku padamu untuk melanjutkan apalagi berarap menghabiskan masa tua bersama mu. Aku tertatih menahan luka, hingga tangispun tak bisa lagi ku elakan.

Hingga aku meruntuhkan egoku untuk memintamu kembali, tapi hatimu sama. Tetap tak terbuka. Sedikit celah kecilpun tak lagi ada. Kini, aku harus merelakan kamu, bahagia dengan wanita yang kelak akan mendampingimu. aku hanya bisa berdoa, jika kamu jodohku bukankah kita pasti bertemu. Namun jika bukan, aku harap tak ada lagi benci antara kita, dan kita tetap bersahabat di kehidupan selanjutnya.

Maafkan aku yang mengecewakan kamu.

Salamku untukmu.