Telepon yang anda hubungi sedang sibuk (100x..)

Entah apa yang membuat hati ini teriak kesakitan saat kesekian kalinya telepon dariku kau matikan begitu saja, aku sadar bahwa ini bukan penolakan yang pertama. Sudah sangat sering kau seenaknya pencet tombol merah saat namaku yang muncul di layar hp mu. Tapi apa pernah kau beri penjelasan? Kesalahan seperti apa yang ku lakukan sehingga begitu keras hatimu untuk bersikap sewajarnya.

Mungkin memang berapa lama waktu kita mengenal satu sama lain bukan ukuran yang seharusnya dijadikan takaran bahwa rasa yang kita miliki sama. Aku mencintaimu sejak pertama kali kornea mata ini menelusup masuk ke dalam matamu paling sayu, saat kaki ini masih sanggup berdiri di tumpuannya, hingga terpuruk jatuh dan hanya lutut ini yang sampai ke tanah.

  ya, aku sudah tidak lagi mampu berdiri saat kau memilih melangkah di jalan yang lain.

Sabarku bukan habis, namun aku yang memilih untuk menghabiskan sabarku di kamu. Aku tidak akan lagi menghitung berapa lama aku mengejarmu, berapa lama penantian ini membusuk hingga darahku berubah hitam pekat. Jantung ini ku biarkan tetap berdegup, walaupun kedengarannya dia sudah lelah. Mata ini kubiarkan mengeluarkan air nya, hingga rasanya sembab saat terjaga dalam beberapa waktu terakhir, menjadi hal biasa. Badan ini mengurus, tidak ada lagi pipi yang sering kau cubit untuk menghilangkan penat, aku sudah bukan lagi boneka mu. Aku berubah menjadi boneka pesakitan yang nafasnya akan tercekat di tenggorokan.

Advertisement

Setiap hari, saat akan melangkahkan kaki menapaki jalan kehidupan yang rasanya sudah bukan lagi tujuanku, aku berhenti. lalu mulai berpikir bahwa menyerah dan mengibarkan bendera putih bukan lah jiwa pejuang. Lalu aku mulai berjalan lagi bersama harapan yang terus tumbuh membesar. Harapan itu ibarat balon, dia bisa meledak kapanpun. Jika besarnya sudah melewati batas dan sudah mampu menggapai seseorang disebrang sana, maka saat itulah dia akan meledak. Ternyata benar, kau membawa jarum saat aku sudah begitu dekat denganmu. Ternyata selama ini kau hanya menunggu kapan kau bisa meledakkan harapan itu.

Sudah banyak yang kita lewati, namun tidak juga kau memberi kejelasan. Hingga akhirnya kau menghubungiku meminta untuk bertemu. Tidak berpikir panjang aku mengiyakan secepat kilat. Rasanya baru kali ini jantungku bekerja sangat baik dengan irama yang sangat kencang. Dan aliran darah serasa mengalir bebas, semua luka yang pernah kau ciptakan seakan fibrin-fibrin nya menyatu dan menutup luka itu dalam hitungan detik. Kau memang luar biasa, duniaku terasa luas, seperti memaksa merasakan surga yang keharumannya dapat dinikmati dalam keadaan hidung mampet.

Aku datang ke tempat yang sudah kau reservasi terlebih dahulu, aku merasa istimewa saat menyadari kau memilih tempat yang begitu romantis. Namun lagi-lagi tanda tanya besar meneriaki ku, aku memerintahkan mereka untuk diam sebentar, biarkan aku menikmati keindahan yang jarang sekali kau lakukan untukku.

Sudah setengah jam aku menunggumu disini, namun tidak juga kau menampakkan batang hidungmu. Hingga akhirnya kau datang. Senyumku melebar tertahan beberapa detik karna kau terlihat begitu manis. Namun senyumku mulai luntur saat kau duduk dan membicarakan hal paling sensitif dalam hidupku.

Setelah pertemuan itu, aku tidak lagi mengenal dunia luar. Hidupku hanya sebatas tembok kamar dan guling serta tisu yang bertebaran di lantai. Aku menangis sesenggukan membaca ulang secarik kertas pemeberianmu, berharap waktu bisa berputar atau terhenti saat itu juga.

Mencoba bangkit. Aku datang sayang, datang melihatmu untuk yang terakhir, mungkin aku tidak pernah ada dalam dukamu, namun saat ini aku melupakan seluruh kesedihanku hanya agar kau tahu bahwa hatiku yang sudah robek masih bisa menghasilkan senyum. Kau begitu tampan pagi ini……dan wanita disebelahmu begitu anggun. Selamat menikah, sayang. Aku baru sadar bahwa jodoh memang rahasia tuhan paling keramat. Aku yang menantimu sekian tahun, namun bukan aku yang mencium punggung tanganmu saat semua orang menyuarakan “SAH”.

  Mengetahui bahwa hati sudah ikhlas melepaskan tidak dilihat dari seberapa hebat kau menahan air matamu, namun seberapa tangguh kau mampu ikut berbahagia di hari spesialnya.