Mengenalmu adalah hal yang tak pernah kurencanakan sebelumnya. Kau datang saat aku masih asyik dengan dunia sepiku. Ya, aku ketika itu memang tengah sendiri. Banyak yang datang padaku dan memintaku, namun ku tolak mereka dengan alasan aku belum ingin mengenal cinta. Bagiku, mengenal cinta dan jatuh di dalamnya adalah hal yang cukup menakutkan. Mendengar cerita cinta teman-temanku yang kebanyakan berakhir dengan derai air mata semakin membuatku enggan berteman dengan cinta.

Hingga akhirnya kau datang, bukan pintaku, tapi tentu karena takdir-Nya. Duniaku tak lagi sepi, selalu ada gelak tawamu yang kudengar dan nasihat-nasihatmu yang meneduhkan. Entah, apa yang kau sembunyikan di balik tegas tatap matamu. Yang jelas, bening matamu benar-benar meluluhkanku. Terbenamku dalam angan tentang masa depan yang indah bersamamu.

Kau masih ingat? Ketika itu kau mengajakku ke Pantai. Kau bilang kau ingin melihat sunset terbenam. Jejak langkah kakimu jelas terlihat di atas pasir pantai yang lembut. Aku telah menunggumu di ujung batu. Kau menatapku, tak lupa sungging senyum teduhmu kau suguhkan untukku. Sungguh, ku tak ingin hari indah itu berakhir bersama terbenamnya si jingga.

Waktu terus berjalan, ia berhasil menguasaimu, dan mengalahkanmu.

Kau dan aku kini sedang berpacu dengan waktu dan cita. Kau dengan cita-citamu, aku dengan cita-citamu. Sadarkah kau? Kini aku tersiksa oleh waktu. Aku hanya mendapat satu detik darimu.

Advertisement

“Sayang, apakah kau lupa? Ada aku disini” hanya itu pertanyaan yang seringkali ku ucap dalam hati karena aku terlalu takut untuk berterus terang padamu.

Kau asing bagiku, demikian juga aku bagimu. Aku berusaha mengingatkanmu tentang memori-memori kebersamaan kita dulu, ketika kita masih sering bertemu untuk memeluk rindu. Tapi, kau justru lupa dan pura-pura lupa. Sayang, katamu cintamu untukku. Sayang, katamu aku hidupmu. Ah, kini rasamu telah tumbang dilanda arus waktu. Ingatlah, disini ada aku yang rindu tatapan tegasmu dan sapaan penuh kasih sayangmu.

Ketakutanku selama ini benar, kekhawatiranku selama ini terjawab sudah. Kau tiba-tiba datang padaku dan berucap tentang persahabatan.

Deg! ruas-ruas tulangku melemah. Kau bilang kau kini terbiasa tanpaku, dan rasamu tak lagi seperti dulu. Kau tahu, hatiku hancur mendengarnya. Ku percayakan hatiku untuk kau jaga, namun ternyata kau tak pandai memegang kata yang pernah kau ucapkan dulu. Dengan mudah kau mengakhiri ketika hatiku sudah berhasil kau tawan. Benar, air mata menjadi akhir dari kisah cintaku. Benar, ketika ku mengenal cinta, aku harus siap dengan perihnya hati yang tersakiti.

Untukmu, kuucapkan terimakasih, karena sudah berkenan untuk singgah, bermain-main kemudian pergi tanpa peduli hati yang telah kau menangkan.