Aku ingin mengucapkan terima kasih untuk kamu yang sudah membuatku percaya bahwa cinta itu ada.

Kamu sukses meruntuhkan tembok besar yang mengelilingi pertahanan hatiku. Aku tak tahu, mantra apa yang kamu gunakan hingga akhirnya aku menyadari bahwa aku telah menjatuhkan hati kepadamu. Terimakasih kamu sudah membuatku tertawa dengan celetukan konyolmu, dan berbagai sikap humorismu. Meski terkadang itu membuatmu seperti anak kecil, aku tetap suka. Berbagi kelucuan denganmu, membuatku seperti orang yang paling tidak waras di dunia.

Terimakasih untuk malam-malam panjang yang kita habiskan melalui berbagai pesan singkat sebelum mata terpejam. Asal kamu tahu, degup jantungku berpacu hebat ketika muncul notifikasi pesan darimu. Karena memang hanya kamu yang aku tunggu. Terimakasih sudah mau mendengarkan keluh kesahku dan memberikan wejangan ketika aku sedang bersedih.

Melalui wejangan dan nilai-nilai hidup yang kamu berikan, aku tahu, kamu tak pernah pantang menyerah dalam menjalani kehidupan. Ketika kamu sedang memberikan wejangan itu, terkadang aku merasa seperti seorang gadis kecil lugu yang sedang diceramahi oleh ayahnya. Bagiku, kamu adalah pria baik dan mau berusaha untuk mengubah hidup menjadi lebih baik. Aku mengagumi kerja kerasmu, dan aku mengagumi pemikiranmu.

Aku juga mau mengucapkan terimakasih untuk semua waktu yang bersedia kamu luangkan. Terimakasih sudah mau menemani nonton pertunjukan musik yang mungkin bukan seleramu. Padahal ketika itu kamu baru selesai bermain sepak bola, dan dengan peluh yang masih mengucur, kamu bersedia menemaniku. Terimakasih sudah mau diajak menonton pertunjukan teater dan menungguku bekerja dalam beberapa kesempatan.

Advertisement

Terimakasih sudah membuatku nyaman. Kamu tahu, aku paling suka ketika kamu memanggilku dengan sebutan “nduk”.

Karena aku merasa seperti pulang ke rumah dan mendapatkan pelukan hangat dari orang-orang yang tersayang. Aku juga suka ketika kita membicarakan tentang masa depan di malam-malam panjang itu. Pembicaraan masa depan membuat pondasi kedekatan yang kita bangun semakin kuat, dan aku selalu berdoa agar Gusti bisa tetap mendekatkanmu… mendekatkan kita.

Dari semua hal yang sudah kita lalui, aku merasa kamulah orangnya. Kamulah yang selama ini aku cari, dan aku siap menghabiskan sisa umurku bersamamu. Ribuan doa dipanjatkan, dan jutaan harapan dijunjung tinggi. Namun, hidup tak selamanya berjalan sesuai dengan keinginan. Aku dan kamu memiliki tujuan hidup yang berbeda. Aku tak bisa memaksa, karena sesuatu yang dipaksakan tak akan berakhir indah. Aku menyayangimu, maka aku melepaskanmu pelan-pelan, seperti saat aku menjatuhkan hati kepadamu.

Jika kelak aku dan kamu berjodoh, pasti ada jalan untuk kembali. Namun, jika kelak aku dan kamu tidak berjodoh, maka mungkin Gusti sudah menyiapkan seseorang yang lebih menyayangi. Sekali lagi, terimakasih sudah membuatku percaya bahwa cinta itu ada. Terimakasih sudah mau berbagi dan, terimakasih sudah mau menerima apa adanya aku.