Selamat menjelajahi hari demi hari, Tuan Masa Depan. Aku hanya ingin sedikit berbagi kesah. Tentang perjumpaan, tentang ketidakpastian, pun tentang takdir yang memang sedemikian mendebarkan. Tak keberatan kan kamu?

Tuan, ada tempat yang mengajarkan banyak pelajaran tentang waktu yang tak akan pernah kembali, menyusuri lorong-lorongnya tak akan sedamai menyusuri lorong-lorong sekolah, kampus, atau gedung-gedung tinggi, yang pada setiap pintunya akan banyak menyapamu dengan penuh kegembiraan.

Lorong-lorong ini berbeda. Mengaduk-aduk rasa, mengajarkan bagaimana ikhlas dan tawakkal sesungguhnya. Mengajarkan betapa hari-hari kita harus penuh kesyukuran. Menampar-nampar kita betapa kita sering abai atas nikmat sehat. Sering abai atas waktu luang.

Pada lorong inipun, hadir orang-orang yang Tuhan takdirkan untuk dipertemukan dengan kita. Memberikan pelajaran tak terduga. Orang-orang yang membuat hati kita tergugah, bahwa berbagi itu haruslah ikhlas, bahwa tersenyum bukan sebab harimu indah. Lebih dari itu, bahwa sampai hari ini Tuhan masih memberi kita waktu untuk hidup. Apakah kita tetap mengingatNya kala kita sibuk?

Menyenangkan bisa menjumpai banyak orang setiap waktu.

Advertisement

Bukankah begitu, Tuan? Menyenangkan bisa menjumpai banyak orang setiap waktu. Tidak peduli bagaimana rupa perjumpaan itu, mengenal orang baru selalu menyenangkan. Asal tidak setiap perjumpaannya mengaduk-aduk rasamu.

Pernah suatu waktu, seingatku kala itu penghujung Oktober. Saat hujan masih sering mendermakan cintanya untuk bumi. Pagi, siang, sore, larut malam bahkan seringkali aku kehilangan arakan-arakan mendung yang tak berkesudahan. Aku terkadang heran dengan istilah ini, bagaimana bisa seseorang –mendermakan cinta- ? Bagaimana seseorang menyatakan memiliki, sedang dirinya saja bukan miliknya?

Aku percaya Tuhan Mahakuasa, segalanya tentu mungkin bagiNya.

Ya, aku percaya Tuan Mahakuasa. Mudah saja bagiNya mendatangkan hujan di tanah paling kering atau sekedar menitahkan terik matahari setelah hujan badai. Pun sangat mudah bagiNya mendekatkan dua hal yang saling jauh, mengenalkan dua hal sebelumnya tak saling tahu, memahamkan dua hal yang saling beda, menumbuhkan percaya pada hal yang sebelumnya dianggap paling sulit. Mudah saja. Apa yang tak mungkin terjadi bila Ia telah berkehendak?

Aku ingin bertanya, Tuan. Kepada semua perempuan yang mendengar tanyaku ini. Kepada semua perempuan yang membaca tulisanku ini. Aku ingin bertanya. Pernahkah ada seseorang yang datang lantas membuat hidupmu berubah dalam sekejap mata? Menyandingmu dengan masa depannya? Menawarkan setengah hidupnya rela kau ganggu? Menyatakan rasa nyamannya denganmu? Atau sekedar menghadapkanmu dengan pernyataan yang bahkan lebih sulit dari ujian tingkat akhir?

Terima kasih pernah singgah.

Kepada kamu yang membuatku meluangkan waktu untuk berpikir keras atas pertanyaan-pernyataanmu itu. Kepada kamu dengan segala kebaikanmu. Kepada kamu yang ceritanya setia menemaniku hingga pagi gulita. Kepada kamu yang sampai hati mengaduk-aduk rasa di hati.

Terima kasih pernah singgah..

Aku masih sering heran dengan orang-orang di luar sana yang bisa saling percaya tanpa berjumpa terlebih dahulu, tidak pernah saling tahu. Dan sial. Sekarang semua itu terjadi padaku. Aku bahkan masih sering tak percaya dengan ini semua. Namun kalau benar takdir Tuhan demikian, apa lagi yang harus tak kupercaya?

Sungguh, terima kasih pernah singgah..

Butuh waktu untukku memastikan rasa.

Memastikan apakah ini semua seperti yang kita bicarakan kemarin. Memastikan bahwa semuanya bukan sekedar iya atau tidak. Entahlah, bagiku ini sulit. Sangat sulit. Satu yang kupercaya adalah ada seorang laki-laki baik yang menawarkan hidupnya. Ya, aku percaya kamu baik.

Terima kasih pernah singgah.

Aku harus selalu memastikan ke mana akan kamu bawa pergi. Aku tak tidak mau diajak menjelajah tanpa tahu tujuan yang pasti. Maaf, jika aku memilih berhenti. Memintamu untuk tak lagi menjadi teman perjalananku. Biarkan aku berjalan sendiri dulu, tanpa ada kamu di sisiku. Aku ingin mencari yang hakiki, sebelum akhirnya ada tangan yang setia menggenggam setiap jangkah.

Namun untuk perjalanan kemarin, terima kasih sudah membawaku mengunjungi dasar hati. Ikhlaskan aku pergi.

Mungkin kita perlu jarak untuk belajar dari pengembaraan kita masing-masing.

Pada akhirnya jarak juga yang mengukuhkan perkara. Maka aku ingin jauh darimu dahulu. Hingga sampailah aku pada satu pertanyaanmu :

“Apa yang kau tahu tentang rindu?”

"…Asal tidak kehilangan Tuhan karena sesuatu…"

Terima kasih pernah singgah.

Di persimpangan ini, kita telah memilih berpisah. Mengambil pelajaran dari pengembaraan kita masing-masing. Berpisah tidak sama halnya kemudian kita menjadi musuh, bukan? Kita hanya sedang memilih taat pada Tuhan. Selamat menempuh rimbanya dunia, seorang diri. Kamu, tak perlu menjanjikan banyak ketidakpastian hanya untuk membuat kita saling setia.

Aku tidak memintamu untuk menunggu. Barangkali jika benar takdir Tuhan demikian, alasan perjumpaan kita selanjutnya adalah tujuan. Atau barangkali kita benar-benar harus berjumpa saja.

Percayalah, bahwa pada akhirnya esok hari kita akan sampai di persimpangan ujung perjalanan. Entah nanti kamu akan menemukanku atau mungkin dengan perempuan selain aku? Namun percayalah, bahwa Tuhan kita selalu mengerti tentang apa-apa yang baik untuk kita, selalu memberi apa yang sebenarnya kita butuhkan. Ia lebih tahu daripada kita sendiri. Karena Ia adalah sebaik-baik pembuat skenario.

Terima kasih pernah singgah.

Kepada kamu yang pernah membuatku jatuh (hati) gelisah.

Selamat kembali berjalan pada jalan kebaikan. Selamat berhijrah. Semoga waktu, jarak, dan rasalah yang saling menguatkan. Tanpa ucap yang kadang itu kepalsuan dan nafsu belaka.

Dariku, yang (masih) menganggapmu lazuardiku

*terinspirasi dari seorang kawan