Hubungan ini memang salah. Wajar jika akhirnya pun menyakitkan. Ada asap pasti ada api. Ada sebab pasti ada akibat.

Tidak pernah terpikirkan sebelumnya akan mengenal dia lebih jauh. Sosok introvert, cuek, jutek, dan pintar, itu kini ada dalam cerita-cerita hidupku. Laki-laki yang telah mengisi hari-hariku beberapa bulan lalu.

Pertemuan kami tidak pernah terencanakan sebelumnya. Berawal dari hanya ingin menjenguk dia kala sakit. Kemudian berujung pada kedekatan yang akhirnya membuatku tenggelam pada pengharapan yang berlebih.

Dia sebenarnya sosok yang baik dan asik. Dan yang terpenting ada beberapa dari sifatnya yang kusukai. Hal itulah yang membuatku berharap padanya. Tak salahkan aku berharap? Toh dia pun menunjukkan respon yang sama denganku.

Satu bulan bersama, hubungan kami masih baik-baik saja. Namun lama kelamaan, dia mulai berubah. Aku sadar bahwa tidak ada status apapun antara aku dan dia. Hanya sebatas teman saja, sehingga aku pun menerima dengan lapang dada semua sikapnya yang menempatkanku hanya sebatas teman. Tapi terkadang sikapnya itu berbeda. Dia bahkan berulang kali memperlakukanku layaknya seorang girlfriend-nya. Padahal, baik aku ataupun dia, sama-sama menyadari bahwa hubungan kami itu salah di mata agama dan ideologi kami masing-masing.

Hingga akhirnya aku pun memutuskan mundur dari hubungan kami. Dua minggu aku mencoba untuk meninggalkan semua bentuk chat dengan dia. Entah itu chat di Facebook, Instagram, ataupun whatsapp. Karena hubungan ini berawal dari chat iseng di Instagram, makanya aku pun berusaha keras untuk tidak membuka instastorynya ataupun postingannya.

Tapi, usahaku sia-sia. Setelah dua minggu saling diam-diaman, dia tiba-tiba ngechat di IG via instastory. Awalnya aku masih bertahan dengan prinsipku untuk tidak menanggapi dia. Namun pada akhirnya, aku pun luluh pada obrolan kami yang begitu mengalir. Hingga akhirnya, chattingan malam itu pun menjadi pemantik obrolan-obrolan selanjutnya.

Hubungan yang awalnya terputus sesaat, kemudian berlanjut dengan arah yang semakin tak jelas. Aku sebenarnya risih dengan hubungan yang tak jelas itu. Aku menyadari bahwa aku salah. Namun aku terlalu nyaman dengannya, sehingga aku pun sulit untuk beranjak pergi.

Tiba saat di bulan kedua hubungan tak jelas ini berjalan, dia mulai menunjukkan tanda-tanda pergi. Tanda pertama yang terbaca olehku adalah dia yang mulai jarang ngelike semua postingan IG atau pun FBku. Awalnya aku tidak terlalu menanggapi, walaupun sebenarnya agak terheran-heran.

"Ahh… Mungkin dia yang tidak melihat postinganku,"

"Ahh tapi tak mungkin. Dia kan selalu online. Dan bahkan dia ngelike semua postingan temanku. Ahh… Benar-benar aku dibuat stres oleh hal ini".

Begitulah isi pikiranku dalam beberapa minggu. Setelah dua minggu dari tanda pertama, aku pun mulai paham bahwa dia mulai ingin beranjak pergi. Oke baiklah, aku pun akan bersikap sewajarnya saja. Tidak perlu sedih ataupun khawatir.

Tanda keduapun tak lama berselang setelah tanda pertama muncul. Dia yang biasanya menjadi penonton setia setiap instastoryku, kemudian dalam setiap postingan hanya satu kali dia berkunjung, bahkan tidak sama sekali. Seringkali saat aku reply storynya, hanya di read saja tidak dibalas sama sekali. Perih.

Tiba-tiba, tak sengaja ku buka explore IG dan ada quote berikut:

"Saat dia lama balas chat, itu artinya kamu tidak penting baginya".

Oh begitu. Yasudah. Kalian bisa bayangkan betapa kerdilnya diriku saat dalam posisi tersebut. Aku mengerti, aku bukan siapa-siapa baginya. Aku pun mencoba meyakinkan diri untuk menerima semua yang terjadi, meskipun berulang kali ingin marah.

Tanda ketiga ini adalah puncaknya. Sebelumnya, aku dan dia sempat bertemu untuk makan malam dan nonton. Malam itu, aku sempat ngambek karena sepanjang malam itu kami bertemu, tak sedikitpun dia banyak berceloteh, sehingga aku pun lebih banyak diam dan akhirnya aku pun marah. Padahal tujuanku mengajak dia makan adalah agar dia mau berbagi cerita karena posisinya saat itu sedang dalam kesulitan menentukan arah masa depan, pilih kerja atau kuliah. Pikirku, mungkin aku bisa membantu dia dengan sharing pengalamanku dulu. Tapi nyatanya tidak. Aku malah diacuhkan dan dia asyik main HP. Kejadian malam itu semakin menegaskan bahwa aku memang tidak berarti apapun untuk dia.

Beberapa hari setelah kejadian malam itu, kami pun baikan kembali tepat saat aku akan pergi ke Yogyakarta. Selama aku di Yogya maupun setelah aku pulang, semuanya baik-baik saja. Dan bahkan dia bilang padaku bahwa dia ingin ikut mengisi cerita travelingku selanjutnya. Baiklah ku iyakan. Dan aku pun senang saat itu. Karena ku kira mungkin dia sudah mulai berubah. Syukurlah.

Tapi kenyataannya tidak. Sepulang aku dari Surabaya semuanya berubah. Dia ngeblock akun Whatsappku. Wajar saja aku tidak bisa ngechat dia dan melihat profilenya. Di Instagram pun demikian. Awalnya aku khawatir kalau dia tidak ada paket data. Tapi tidak mungkin, sebab dia selalu online dan selalu mencari hotspot wifi. Alasan pertama ditolak. Aku berpikir mungkin dia sedang sibuk mempersiapkan tes masuk kerja atau sejenisnya. Bahkan aku khawatir bahwa HPnya hilang.

Dua hari setelah kepulanganku dari Surabaya, aku memberanikan diri bertanya pada temanku yang juga temannya. Dan aku pun bercerita semua tentang dia. Temanku pun mulai melihat isi instastorynya, ternyata dia mengunggah aktivitasnya jam 1 siang. Setelah itu, ketika di cek whatsapp, ternyata temanku bisa melihat profilenya. Mulailah aku menduga bahwa aku diblock olehnya, dan akun IGku dihide, sehingga aku tidak bisa melihat apapun aktivitas instastorynya. Aku pun mencari tanda block WA di Google. Ternyata benar. Semua tanda-tanda block telah ku alami.

"Haahhh….", ku tarik nafas panjang dan mencoba sabar. Mataku benar-benar panas. Ingin menangis tapi tidak. Untuk apa aku menangisi laki-laki yang menyakitiku.

Saat ku sadari itu semua, hati dan pikiranku benar-benar sakit. Aku bahkan tidak tahu alasannya apa. Padahal sebelum kejadian hari dia ngeblockku itu, malamnya kami masih chattingan dengan topik yang baik-baik saja. Tak ada masalah apapun. Makanya aku benar-benar heran apa salahku. Atau apa mungkin dia yang merasa bersalah?

Kurasakan benar-benar sulit berdamai dengan hati dan pikiranku. Ku beri satu minggu agar hati dan pikiranku mencari alasan untuk menerima semua perlakuannya. Dalam setiap sujud dan doa panjangku, aku tiada henti berdoa untuk dialihkan ingatan dari dia. Aku berdoa untuk tidak lagi memikirkan semua memori hubungan yang tak jelas itu. Meskipun masih sulit melupakan dia, aku masih akan terus mencoba. Toh, dia juga tak pernah mengkhawatirkanku, kenapa aku malah mengkhawatirkannya.

Pada akhirnya, aku pun mulai mengikhlaskan apa yang terjadi padaku. Aku berpikir, pasti inilah rencana Allah yang sempurna untukku. Allah menunjukkan siapa dia yang sebenarnya. Yang baik menurutku, belum tentu baik menurutNya. Dan Allah telah menunjukkan siapa kamu sebenarnya.

Terima kasih telah menyakitiku, sekarang ada alasan untuk tidak memilihmu menjadi teman hidup. Dari kejadian ini, aku belajar bahwa saat kamu mencintai seseorang, maka kamu harus menyediakan ruang yang sangat lapang untuk menerima perih. Dan aku tahu betapa Allah sangat menjaga dan mencintaiku!