Sebelum kau sampai pada tahap ini, aku pernah merasakan bahagia bersamamu. Tahap yang kau lewati dengan dia saat ini adalah mimpi kita yang pernah kau janjikan. Kau membuatku terbang tinggi dan merasakan bahwa aku adalah seorang wanita yang beruntung di antara teman – temanku karen aku memilikimu. Kau janjikan mimpi indah dan banyak hal kosong yang akan kita warnai. Sungguh indah 1 tahun 8 bulan kebersamaan kita. Rasanya hati ini sudah cukup berlabuh di tempat yang tepat, yaitu kamu.

Namun, aku merasakan sakit, sungguh sakit hati ini ketika kau berubah. Berubah menjadi orang yang benar – benar bukan kamu. Bukan seperti kamu yang ku kenal. Chat, sms, dan teleponku tak pernah lagi kau hiraukan. Entah apa pula yang ada dirimu saat itu. Aku tak kuasa untuk membendung setiap air mata yang akan terjatuh. Aku mencoba menikmati hari dan melupakan. Namun itu semua tak bisa membohongi diriku. Sampai akhirnya kau mengajakku untuk bertemu dan aku pun menyetujuinya. Betapa senang dan rindu hati ini ingin melihatmu lagi. Sampai pada titik pertemuan itu, aku pun menyesal untuk pertemuan kita. Aku sedih karena kau pun benar – benar berubah dan tak mau menatapku. Berbicarapun hanya sedikit. Ooohh Tuhan… apa yang terjadi padanya. Setelah pulang bertemu dengannya aku menangis seorang diri dalam sudut kamarku yang gelap.

Yang lebih membuatku sakit lagi ketika aku menerima pesanmu dan aku membacanya dengan kaget “PUTUS” itulah salah satu kata yang muncul dalam pesan itu. Sungguh aku tak mengerti mengapa ini terjadi. Kau tak mau berbicara atas perubahanmu dan tiba – tiba kau memberi pesan dengan kata – kata yang sungguh membuatku menangis.

Selang beberapa hari atas perpisahan kita. Aku mencoba untuk menyibukkan diri dalam kegiatan kampus. Yaa… karena kesibukkan itu aku berhasil perlahan untuk tak mengingat lagi sosok tentangmu. Dan aku pun mulai memberanikan diri mengembangkan potensiku untuk bersosial dan mendekatkan dengan teman – teman kampus yang belum pernah aku kenal. Mungkin ini adalah salah satu makna yang bisa aku dapat dengan perpisahan ini.

Kini, kau telah melabuhkan hati terakhir untuk dia. Begitu pun juga denganku yang telah memiliki hati yang lain. Meskipun kita sudah tak pernah lagi bertemu atau pun sekedar menyapa namun kamu.. akan menjadi kenangan. Meskipun berakhir dengan goresan luka. Terimakasih untukmu.