Aku selalu mengatasi patah hati dengan caraku sendiri. Aku enggan banyak berbicara pada orang lain untuk sekedar memberikan rasa lega dihati setelah mencurahkannya. Aku banyak diam dan menulis. Bukan, bukan karena aku tak pandai marah, tapi ku fikir buat apa ku habiskan banyak energi pada hal yang sudah membuang harapan-harapanku.

Kau fikir aku akan meronta-ronta, menangis tak karuan, kacau balau, dan memakai ke-abu-abu-an itu sebagai bajuku setelah kau putuskan untuk kita berpisah? Jelas iya, tapi ku jamin ini tak akan lama.

Aku jelas terluka, saat aku sedang benar-benar menyangimu ternyata kau pergi untuk yang lain. Tak apa, jika dia benar menggenapimu, ku relakan. Aku akan selalu mengingatmu dengan senyuman, karena kau pria yang pernah membuatku tetap baik-baik saja dalam segala keburukan.

Bagaimana jika keburukan itu justru datang dari orang yang bisa membuatku merasa baik-baik saja? Tak masalah. Aku hanya salah menaruh predikat itu pada seseorang, seharusnya kebaik-baik sajaan itu tetap berasal dariku, bukan orang lain, ataupun kamu.

Sekarang, waktu menyembuhkanku. Aku tak pernah benar-benar lupa padamu. Terkadang aku masih mengingatmu atau tak sengaja teringat padamu karena sesuatu. Tak apa buatku, karena pernah dikecewakanmu bukan sebuah keharusan untukku melupakanmu. Aku sembuh bukan karena aku lupa padamu, melainkan ketika saja aku masih mengingatmu, hatiku tak lagi sesakit dulu. Dan di saat itu, ku bilang aku berhasil membuat diriku baik-baik saja.

Advertisement

Kekecewaanku, rasa sakitku, sekarang tak lain hanya sebuah cerita di masa lalu. Aku belajar banyak hal dari sebuah rasa sakit. Tak perlu ada yang disalahkan jika sakit hati itu datang, yang pantas disalahkan hanyalah diriku sendiri. Ku ingatkan, tak ada yang salah dalam menyukai seseorang, tak ada cinta yang salah. Kau boleh saja menyukai siapapun, karena cinta tak memerlukan alasan.

Aku baik-baik saja. Dengan diriku. Dengan hatiku. Dengan hidupku. Kau tak perlu lagi datang untuk sekedar menanyakan kabarku. Aku sudah tak memerlukan ke-baik-baik saja-an darimu. Aku sudah memiliki sumbernya sendiri. Pergilah, sejauh yang kamu mau, aku tak akan mengikutimu ataupun menanyakan dimana sekarang keberadaanmu. Tak akan, ku jamin.

Sekalipun sekarang aku belum menemukan seseorang yang lain lagi untuk bisa ku sayang sebanyak waktu aku menyayangimu dulu, aku tetap baik-baik saja. Terimakasih atas rasa kecewamu. Aku belajar. Luka darimu menguatkanku.

Terimakasih untuk kamu, seseorang di masa lalu.