Dalam banyak hal yang tak dapat dimengerti manusia. mengapa itu cinta. Mengapa sebuah cinta yang diagung-agungkan oleh banyak orang, nyatanya juga penyebab semua luka. Lantas harus ucapan seperti apa yang pantas diucap padamu, pada tangan yang menarik hati dari kegelapan, memberi cahaya sebentar lalu meninggalkan lagi di kegelapan.

Pantaskah kuucapkan terimakasih, untukmu yang telah mengosongkan hati ini begitu lama? Bagiku mencintaimu tak butuh waktu lama, dan aku sadar melupakanmu membutuhkan waktu yang tak sebentar. Berpuluh-puluh hari bersamamu terasa begitu singkat, seakan ingin kuulangi kembali dari awal. Masih tak mau percaya bahwa kini kamu telah mematahkan hatiku, seperti yang lalu.

Bukankah kamu sadar saat pertama kamu ulurkan tangan, seberapa dalam luka yang aku miliki. Dan kamu pilih untuk menyelaminya, mengobatinya dari dasar. Kamu tumbuhkan kembali rasa percaya pada cinta lewat sorot lembut matamu. Katamu aku pantas bahagia. Terima kasih.

Lalu mengapa kamu menghilang, seolah tak pernah ada hari dimana kita bersama. Tanpa kata perpisahan yang layak. Tak sebentar kamu pergi, dan aku yang terlanjur mencintaimu dengan bodohnya tetap menunggu dirimu dengan begitu setia. Percaya suatu ketika kamu akan kembali menghangatkan hati yang mulai beku ini.

Tapi aku cuma manusia. Aku bisa salah. Terima kasih hati. Ketika kau begitu berhati-hati menjaga hati disini, nan jauh disana, tempat yang tak bisa ku datangi semauku. Hatimu tak lagi untukku. Hatimu milik dia yang lain. Apakah sebuah kesetiaan tak sebegitu berarti dari keberadaan?

Advertisement

Hati yang kamu selamatkan itu, kini kamu tenggelamkan lagi. Hati yang kamu sembuhkan itu kini terluka lagi. Terkadang aku bertanya seberapa bodoh diriku hingga lagi dan lagi aku terluka. Kamu yang menawarkan kebahagiaan, mengapa justru memberi racun.

Terima kasih, berkatmu kini aku tak lagi bisa berkata. Lidahku cukup kelu menyangsikan perlakuanmu. Sulit mempercayai dirimu hilang tak berbekas. Ribuan pesan yang kukirim padamu seolah hanya bait-bait iklan di surat kabar. Ada tapi tak terhiraukan. Untuk patah hati, bukankah kamu sendiri juga paling mengerti bagaimana rasanya. bukankah kita bertemu jua karena mengalami hal yang sama, terluka oleh orang terkasih.

Maka aku tak percaya kamu mampu meninggalkan aku dengan hati yang cukup penuh dengan cinta untukmu. Kepergianmu bukan saja meninggalkan seberkas luka, patah hati. Kepergianmu membekukan hati yang sebelumnya kamu cairkan. Kepergianmu nyatanya membuat hati ini mengeras seperti batu, memandang nyinyir pada kata cinta.

Pernah satu ketika kamu bertanya mengapa aku mampu mencintaimu, dan aku tak mampu menjawab. bagiku cinta itu tanpa alasan, bukankah memang seperti itu? Tapi terima kasih memberikanku alasan untuk membekukan hati kembali. Hingga nanti semoga kuharap Tuhan berbaik hati mempertemukan diriku dengan sepantasnya.

Aku tak ingin sesumbar, jika nanti kamu ingin kembali, aku masih di belakangmu. aku tak tahu bagaimana ke depannya nanti. Namun aku ingin kamu tau, aku pernah mencintaimu sebegitu dalam, meski kamu tak menganggap diriku.