“Bu, aku ingin bercerita,”

Gadis cantik yang mulai beranjak remaja itu akhirnya mau bersuara.

Seperti biasa, setiap sore, di taman belakang rumah, aku selalu menyempatkan diri untuk beralih peran menjadi teman curhat bagi putri semata wayangku.

Tapi tidak seperti biasanya, kali ini ia harus dipancing dulu agar mau bicara terus terang. Ia seperti ingin sekali bercerita, tapi malu-malu untuk mengungkapkan. Biasa, masalah krusial ABG. Apa lagi kalau bukan …

“E hee.. emm…. tidak jadi ding bu, hehe”

“Hmm.. Kamu tahu nak? Dulu waktu ibu muda.. …”

“Waktu ibu muda? Gimana gimana bu?”

(Dia mulai terpancing). Aku pun melanjutkan ceritaku.

“Dulu waktu ibu muda, ibu pernah tertarik sama seseorang. Orangnya baik. Pinter. Sholeh. Paling aktif gitu di sekolah.Tapi sayang ibu beda sekolah sama dia. Hehe.. hmm”

“Lalu bu? Dia juga menyukai ibu?”

“Sayangnya tidak 🙁 ,”

“Yahhh…”

“Menurut ibu, dia terlalu baik. Ibu merasa nggak pantas. Akhirnya ibu cuma bisa mengagumi dia diam-diam. Bulan demi bulan, sampai berganti tahun. Kita nggak pernah ngobrol. Bertemu saja jarang. Tapi entah kenapa ibu semakin jatuh hati padanya,”

“Kok bisa bu?”

“Ibu jatuh hati dengan kepribadiannya. Dengan kecerdasannya, juga aktivitas-aktivitas yang ia lakukan. Sayangnya, ibu cuma bisa mengaguminya diam-diam,”

“Lalu bu? Ibu tidak mengusahakan sesuatu?”

“Berusaha dong!”

“Wah.. gimana gimana bu?”

“Ibu berusaha untuk menjadi lebih baik setiap waktu. Ibu berusaha untuk selalu mendoakan kebaikan untuk dia. Agar dia selalu sehat, juga dilancarkan urusannya. Ibu pun berusaha, minta sama Tuhan agar suatu saat, ibu disandingkan dengan seseorang yang perangainya seperti dia,”

“Seperti bu?”

“Iya, karena waktu itu ibu menyadari bahwa ibu bukan siapa-siapa. Ibu berpikir, kalaupun ibu berusaha keras jadi lebih baik, ibu nggak akan bisa menyamainya. Tapi itu menjadi motivasi tersendiri buat ibu untuk terus berusaha menjadi lebih baik,”

“Lalu, sampai kapan ibu memendam rasa?”

“Sampai kapan ya.. sampai ibu bosan.. hahaa”

“Hm ibu.. ibu punya penggantinya?”

“Melupakan dia itu sesuatu yang sangat sulit untuk ibu lakukan. Apa lagi mencari penggantinya. Hmm.. Dulu banyak sekali teman-teman ibu yang ibu tolak, karena ibu cuma jatuh hati sama dia,”

“Wah wah sampai segitunya bu? Uhh..”

Putriku mulai manyun. Rupanya rasa penasarannya di awal perbincangan sudah beralih jadi bara kecemburuan. Sambil menahan tawa, aku pun melanjutkan cerita.

“Tapi lama-lama ibu jadi jenuh sendiri. Ibu hampir putus asa. Dan akhirnya ibu mulai berusaha melupakannya,”

“Hmm..” Responnya cuma ‘hmm’ saja. Tapi lirikannya sudah seperti orang yang kepo tingkat dewa. Putriku ini memang menggemaskan.

“Sampai suatu ketika, hal yang tak disangka-sangka pun terjadi,”

“Kenapa bu? dia mengajak ibu bertemu?”

“Enggak. Dia cuma menyapa ibu. Untuk pertama kalinya, setelah ibu mulai berusaha melupakannya. Kita mulai sering mengobrolkan suatu hal. Tentang sebuah program kerja yang harus kita kerjakan bersama. Tapi ibu berusaha untuk biasa saja. Toh memang tidak ada apa-apa,”

“Hmm.. Tapi ibu jadi makin suka?”

“Iya, ibu makin suka dengan tutur katanya. Dia sungguh bijaksana. Tapi ibu tetap berusaha biasa saja,”

“Tapi dia tidak mengganggu ibu kan?”

“Alhamdulillahnya, iya nak. Dia sering mengganggu ibu,”

“Ibu…….” Putriku semakin kesal. Ia memang pecemburu.

“Iya, dia selalu mengganggu pikiran ibu,”

“Dia suka sama ibu?”

“Enggak. Dia cuma bilang, hmm..

Suatu hari dia datang ke tempat kerja ibu. Lalu mengajak ibu ke suatu tempat. Lalu dia bilang,”

“Bilang apa bu?”

“Dia bilang,

Dia sudah lama jatuh hati pada ibu. Tapi dia memilih diam, sembari menunggu segalanya siap. Dia juga khawatir, bila pada akhirnya ibu akan menolaknya. Karena baginya, ibu….”

“Ibu…… Lalu, kenapa ibu akhirnya sama ayah? Kenapa tidak sama lelaki itu saja?” Uh, putriku makin menggemaskan.

“Tunggu dulu sayang.. ibu belum selesai bercerita..”

“Hmm.. lalu?”

“Lalu dia bilang,

‘will you marry me?’”

“Oh. Lalu ibu jawab apa? Ibu tidak bilang YES kan?”

“Nggak kok sayang.. ibu cuma bilang,”

“Bilang apa bu?”

“Ibu cuma bilang,

‘Izinkan saya beristikhoroh terlebih dahulu,”

“Uuhhh.. lalu jawabannya?”

“Jawaban yang mana?”

“Hasil istikhorohnya bu?”

“Hasilnya?”

“Iya bu.. huhuu”

“Hasilnya,

Hasilnya,

Hmmmm

Hasilnya,

sekarang kami hidup bahagia.

Dan kamu lah sumber bahagianya,”

“Maksud ibu.. .?”

“Iya nak. Itu cerita ibu dan ayah waktu muda dulu.

Sekarang, ayo ceritakan kisahmu!”

“Ibuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu,” Dia mendekat. Lalu memelukku erat,

sambil berbisik, “Ibu, aku terharu,”

“Jadi, siapa sosok yang berhasil mencuri hati putri ibu yang sukanya cemburuan ini?”

Akhirnya, ia pun bercerita. Panjang sekali, lebih panjang dari ceritaku tadi. Kini aku jadi lega, putriku menjadi sangat terbuka kepadaku. Tidak ada yang ia sembunyikan, termasuk siapa yang diam-diam mencuri hatinya. Iya, putriku kini telah berkenalan dengan cinta. Cinta-cintaan ala anak remaja. Tak apa. Itu wajar-wajar saja. Pun sudah menjadi tugas perkembangannya.

“Ibu harap, kamu bisa mengambil poin-poin positif dari apa yang telah ibu ceritakan ya nak!”

“Siap bu!”

“Hmm padahal.. …”

“Padahal apa bu?

Padahal ibu dan ayah ingin menjodohkanmu dengan …. Tapi tak apa, ini bukan zaman Siti Nur Baya,”

Kataku sebelum berlari ke dalam rumah. Kami kejar-kejaran. Lalu berpelukan.

“Uhhh ibuuuuuuuuuu,”

***

Semarang, 9 Mei 2017

Diah Fatimatuzzahra