Ini seperti sebuah himpunan yang berbasis ke belakang. Perlahan-lahan situasi bergantian membawa saya masuk dalam bayangan-bayangan lama. Saya kurang mengerti untuk apa mereka melakukan itu karna saya merasa sudah berdamai dengan masa lalu. Segala kepahitan yang berakar dan meninggalkan bekas parah itu secara sederhana sudah sejajar dengan pembelajaran. Yah, saya mencoba menerima segala kesakitan di masa lalu dan merubahnya menjadi pembelajaran. Karena memang Tuhan tidak menciptakan penderitaan. Namun Dia menciptakan peluang untuk menderita.

setangguh apapun saya kala itu, bahkan detik ini. Saya tetaplah saya yang terkadang masih saja menaruh dendam pada masa lalu dan menutup diri dengan ketakutan untuk kembali merasakan hal yang sama. Bukan dengan bangkit. Namun, saya mengubur mimpi.

Bukan karna tak ingin bermimpi bahagia. Tapi karena saya kebanyakan bermimpi sehingga mimpi saya kembali dengan siklus yang itu-itu saja. Bermimpi untuk bangkit lalu takut- kemudian kembali bermimpi- mencoba mewujudkan mimpi- takut dan berhenti, kemudian lupa akan bangkit dan berlari dari bayangan-bayangan pedih yang pernah menghampiri.

Saat itu saya sedang duduk di meja kerja saya, berhadapkan komputer yang sering saya salah fungsikan.
dimana ketika saya harus mengerjakan laporan, saya justru menggunakannya untuk membalas inbox pribadi dari seseorang.
“Masihkah ada harapan?”
baru saja dilihat.
sebuah pesan masuk ke akun facebook saya. Saya tau kemana arahnya pertanyaan dari pesan itu. Pada kenyataannya saya hanya akan benar-benar bodoh, ketika secara terang-terangan mengatakan mengerti lalu membalas pesan singkat tersebut dengan jujur.

“Harapan apa?”

Advertisement

“Berhenti berpura-pura tidak tahu. Saya sudah menanyakan ini berulang kali, saya juga bahkan telah mengatakan cinta saya lebih dari itu. Apakah kali ini saya harus mengulangnya lagi?
memulai dari awal lagi? Rangkaian kata dengan rentetan peristiwa yang sudah dibawa arus persahabatan kita. Saya mencintaimu hari itu, hari ini dan sampai saya bosan.”

Pada akhirnya kemana saya harus pergi sekarang? Melarikan diri dari perasaan yang sama dengan dirinya. Seandainya saya punya cukup keberanian untuk menata ingatan lebih tentang masa depan, maka saya tidak ingin menyiksa ia lebih lama lagi. Saya tidak harus membuatnya kehilangan selera untuk dapat lebih bergairah kali ini. Saya tau ia galau di sana.
saya mengenalnya lama. lama sebelum saya menyadari bahwa marah itu bisa menjadi sangat lucu, ketika ada seseorang yang justru memetik gitarnya ketika kamu sibuk mengomel atas sesuatu yang kurang kamu sukai. Ahh sekarang memori saya terasa gaduh. Semua mengarah ke belakang.

Beberapa hari setelah itu, kami sudah mengatur waktu untuk bertemu. Tidak ada waktu untuk menunda lebih lama lagi sekarang. saya semakin sesak mengulur-ulur waktu untuk berterus-terang meskipun nantinya akan tetap memberikan pernyataan yang sebagian kebenaranya masih perlu dipertanyakan.

Cinta kita sama namun kejutan kita berbeda. 2 anak manusia yang ternyata saling mencintai, belum tentu bisa saling memiliki ketika salah satu dari mereka belum memiliki kesiapan ataupun keberanian untuk melangkah bersama-sama.

“Langkah kakimu pelan, apa ini pertanda buruk untuk cintaku?”
saya cuma tertawa mendengar ia mengatakan itu. “Kamu pesimis sekarang. Apapun yang akan saya katakan nanti, ingatlah bahwa kita akan tetap baik-baik saja. Bisa?”

Ia menghentikan langkahnya, melirik ke arah saya, “Siap!”

awalnya saya mengira bahwa inilah giliran saya untuk berbicara luas, namun ia justru mendahului saya.

“Pantai inikah yang menjadi alasanmu untuk benar-benar menenggelamkan saya sekarang? Saya tidak mendengar satu katapun yang menghidupkan harapan saya daritadi. Bila saya melemparkan diri ke pantai ini sekarang lalu mati, mungkin saya akan lebih memilih berteman dengan bintang laut nantinya. Karena saya tidak ingin lagi mendengar cerita tentangmu. Ikan-ikan mungkin akan selalu punya cerita tentang manusia, kerang-kerang juga demikian. Karena interaksi mereka lebih kuat pada manusia.”

“Bintang di langit lebih indah dari bintang laut”

saya menjawab asal. Melarikan arah pikiran saya agar tidak terkontaminasi dengan kalimat-kalimat pedihnya. Saya sudah hampir frustasi dan ingin segera berteriak sekencang mungkin. Namun saya harus terlihat lebih kuat darinya. Tidak perduli dengan kesesakan yang mengepul penuh di hati saya saat ini. Saya tetap harus berdiri lebih tegap dimana mata saya harus lebih terlihat kosong, sehingga saya bisa benar-benar keluar dari diri saya sendiri. Yang saya tau, setiap orang harus punya kekuatan lebih untuk berpura-pura. Maka saya pun harus kuat.

“kamu tau apa yang terjadi pada keluarga saya bukan? Saya masih terjatuh di kubangan kisah pahit mereka. Perpisahan mereka masih belum bisa saya terima sampai detik ini. Saya menjadi seorang wanita yang takut, yang Cuma punya keberanian untuk bermimpi namun tidak untuk melangkah. Ada banyak orang yang datang kepada saya dengan iming-iming cinta, namun saya menolak. Saya tidak ingin membuka peluang, dimana peluang itu bukanlah peluang yang benar-benar saya inginkan. Saya tau bahwa saya hanya akan memberi ruang untuk terjatuh lalu menangis karna sakit hati. Saya merasa cukup untuk itu. Saya tidak lagi ingin membuang-buang air mata hanya karna sesuatu yang kurang berarti.
kamu juga masih ingat dengan pria yang pernah kusebut namanya?
setelah 10 tahun berkutat dengan rasa takut, pada akhirnya saya memberanikan diri untuk melawan hantu yang menghantui saya. Saya melawan rasa takut saya terhadap rasa sakit dan cinta yang tidak bisa satu untuk selamanya. Saya sudah hampir jatuh cinta padanya, bahkan juga pun sudah jatuh cinta padanya. Sampai satu kejadian dimana sahabat saya menaruh perasaan yang sama kepadanya. Menurutmu bagaimana? Taukah kamu apa yang saya lakukan ketika itu?, saya melepaskannya.
saya merasa saya hampir menangis ketika itu. Disaat saya baru saja ingin mengarungi bahtera cinta dengan menulis cerita bahagia kelak, namun saya harus kembali singgah kedaratan karena kapal saya oleng di tengah jalan. Saya merasa akan lebih baik menurunkan muatan lebih awal daripadanya nantinya saya memaksakan diri untuk kemudian mati tenggelam karena keputusan saya sendiri. Saya cukup untuk itu. saya tidak ingin ketika saya mempertahankannya, ia justru tergoda dan membuat saya terombang-ambing kedepannya. Saya mengakui, saya yang terlalu takut kala itu.”

Saya mendapati kesesakan seolah mencekam lebih erat.

“Setelahnya, saya menjadi orang yang kebal terhadap cinta dan godaan. Saya bukanlah orang yang mudah jatuh cinta. Saya adalah pecinta yang waspada. Saya lebih percaya kepada takdir Tuhan. Saya menolak pria-pria yang meminta cinta saya dan mengatakan bahwa, ‘Bila Tuhan menghendakimu menjadi milik saya, tanpa ikatan saat ini pun kamu akan bisa menjadi milik saya kelak’. Namun mereka tidak bisa menerima itu.
Saya bersyukur atas kehadiranmu selama ini. Kamu memberi warna yang cerah, saya bahagia kamu ada dalam hidup saya. Tentang harapanmu, saya tidak akan menutupnya. Hanya saya tidak bisa memberimu kepastian. Saya juga belum memiliki perasaan yang sama sepertimu. Saya minta maaf. Bila Tuhan mengijinkan saya ingin kamu mengerti ini dan mencintai saya sampai cinta benar-benar memihak kepada kita.”

Bukan Cuma saya yang kali ini menangis. air matanya terlihat menetes pelan yang kemudian buru-buru disapu dengan tangannya.

Sekarang saya berhasil menyiksanya. tapi apa yang lebih menyakitkan dari itu? yaitu saya menyiksa diri saya sendiri.

“saya tidak tau harus mengatakan apa lagi. Saya menduga kamu telah menyakiti saya lebih dalam. Tapi saya berharap itu hanya dugaan semata. Boleh bersamamu dan mencintaimu adalah sebuah anugrah dari yang kuasa. Tapi tidak bisa bersamamu sebagai sepasang kekasih, apa namanya ini?!”

“saya merasa kecewa tapi tidak tau pada siapa. Berhentilah bermain-main dengan kesakitan masa lalumu, karna ke depannya banyak kebahagiaan yang serius mendatangimu. Mungkin saya juga akan mempercayai takdir yang juga kamu percayai. Kalau kamu tidak keberatan, aku ke mobil lebih dulu. Pulanglah bersama saya hari ini. matahari sudah hampir terbenam, angin juga semakin kencang. saya tidak berniat benar-benar melemparkan diri ke derasnya arus ombak yang mulai bergemuruh.”

saya mengamatinya berlalu meninggalkan saya dengan jejak-jejak kaki yang mulai samar-samar, lalu saya ikuti. Saya melakukannya lagi, lari dari kesempatan untuk memperbaiki alur cerita. Jejak yang saya ikuti ini adalah langkah pria yang juga saya cintai. Jika saya hidup kembali dengan cerita yang sama kelak, saya tidak ingin menahan perasaan saya karna sebuah ketakutan yang sebenarnya cukup wajar dan sering dijumpai siapapun. Kita memang tidak bisa melupakan sejarah hidup kita, namun kita selalu punya pilihan untuk merubahnya menjadi lebih baik. Sejarah tetaplah sejarah, yang dapat mempengaruhi masa depan namun tidak bisa merenggut masa depan.

Sekarang saya dapat fokus menikmati rasa sakit akan keputusan saya sendiri, lalu menyembuhkannya sembari menunggu takdir yang kini saling kami percayai.