Sudah lupa dan bahkan tak ingat sama sekali kapan pertama kalinya diminta untuk mengalah pada adik saat menonton televisi, membagi jatah makanan walaupun sebenarnya ia masih punya jatah sendiri, sampai kecemburuan melihat mereka disuapi tetapi kalian harus makan sendiri.

Awalnya (ketika masih kecil-red), cemburu dan iri hati ini mendarah daging. Ada perasaan tentang mengapa diperlakukan berbeda. Perlakuan mengapa kamu selalu harus mandiri walaupun masih terbilang kecil sedangkan adik selalu harus diutamakan. Mungkin kamu dikatakan sudah besar saat berusia tujuh tahun sehingga harus bisa mencuci sepatu sekolah sendiri dan sepatu sekolah adik dengan alasan adik masih kecil.

Namun ketika sudah berusia sembilan tahun dan adikmu tujuh tahun, kamu masih melakukan hal yang sama. Masih mencuci sepatunya, memberikan jatah uang jajanmu di sekolah ketika adik kehabisan uang sakunya (jika sekolah kalian sama), selalu melindungi adik ketika diusili teman-temannya, sampai bagaimana kau harus membantunya mengerjakan pr walaupun kamu sendiri juga ada PR.

Padahal ketika kamu dulunya berusia tujuh tahun, seperti adikmu, kamu bisa dikatakan sudah mandiri.

Terlintas di pikiran, mengapa sampai sekarang adik selalu dikatakan masih kecil dan selalu harus didahulukan kepentingannya. Seperti ada isyarat bahwa kamu harus bisa ini dan itu untuk adik dan dirimu sendiri. Bahkan yang lebih memberikan tekanan lagi adalah kenyataan bahwa kamu harus selalu meberikan contoh yang baik untuk dapat menjadi panutan bagi adik-adikmu.

Advertisement

Seperti ada tuntutan dalam diri harus tertanam sosok yang bisa ditiru dan dibanggakan. Mungkin memang keras, tetapi apa ada yang harus disesali karena telah terlahir sebagai anak pertama? TIDAK sama sekali. Sadar atau tidak, semua yang telah kamu lakukan dan lewati selama ini telah membentukmu sebagai pribadi yang tangguh seperti sekarang.

Seiring dengan berjalannya waktu, kamu malah tak pernah lagi merasakan bagaimana ribetnya mengerjakan pr sendiri, bagaimana kesalnya harus mencuci piring terlebih dahulu sebelum pergi bermain, dan bagaimana penatnya harus meleraikan adik-adikmu yang sedang memperebutkan sesuatu. Lama-kelamaan kamu seperti sudah menemukan titik nyamannya menjadi seorang kakak.

Mengurusi keperluan adik di rumah bahkan telah menjadi pola hidup yang mau tidak mau harus dikerjakan sepenuh hati. Sudah bukan perkara besar lagi merawat adik yang cukup rewel dengan segala kenakalannya. Sudah terbiasa menjadi tempat bersandar ketika adik sedih dan memeluknya ketika ia ketakutan. Apalagi ketika orangtuamu sedang tidak di rumah, kamulah yang mengendalikan semuanya sehingga kondisi tetap stabil.

Diantara semua tanggungjawab itu, masih ada hal yang harus kamu lakukan untuk memenuhi kualifikasi sebagai seorang kakak. Harapan orangtua tentang bagaimana menjaga marwah keluarga dan bahkan mengangkat martabat keluarga harus disimpan baik-baik.

Juga harapan orangtua tentang bagaimana kita bisa mengukir prestasi dan meraih kesuksesan sehingga mampu menggantikan mereka memimpin adik-adik sampai besar nanti. Dan harapan orangtuamu ada diatas pundakmu sendiri.

Selesaikanlah dengan baik anak sulung.