Ayah…

Kalau hari ini kau masih ada, aku berdoa agar kau mengerti.

Agar sesak nafasmu berhenti, aku menyayangimu ayah.

Tak terkira rumah-rumah yang kususuri, dinding-dindingnya kuat tapi aku tak menemukan kuatmu, Ayah.

Kelak jika kau telah tiada, aku tahu itu kasih sayangmu.

Advertisement

Meski aku beribu kali tak ingin.

Tak terhitung jumlah kau memanggilku, bersiul menyanyikan namaku, berharap bebanmu tidak kulanjutkan.

Aku akan bercerita seumur hidupku, ke cucu-cucumu kelak.

Namun, masih terhitung jari berapakali aku memelukmu.

Merasakan sesak yang menggerogoti dadamu.

Menahan sakit yang menghantam punggungmu.

Hanya sebentar aku berlalu.

Aku tak mampu kalau-kalau pecah air mataku yaitu darahmu karena membantumu memeluk peluhmu, menahannya saja aku tak mampu.

Bisikmu dalam doamu sudah tidak punya beban lagi setelah sedetik memeluk darah dagingmu.

Pundakmu yang kuhempaskan.

Rambutmu yang kian hari kian menghilang.

Aku menghitungnya di tiap doaku

Nanti Jika kau telah tiada, bagaimana aku? Akan jadi apa aku?

Kaulah Dewa, Tuhanku, kau seluruhku.

Kau menciptakan berlapis juta detik indah untuk kunikmati.

Kau ketuki setiap pintu dan tak satu pun dibukakan, kau berharap semoga banyak pintu yang menolakmu.

Tak ada yang menerimamu.

Aku tertawa menyaksikanmu tak mendapatkannya, kau mengajariku kau lebih tak peduli dengan pintu-pintu yang tertutup itu.

Kau akan mencari perteduhan untukku agar terik terjal tak menyentuh tubuhku, darahmu.

Ayah…

Buat setiap amarahmu, aku menghormatimu.

Waktu yang menjadi kekasihmu, amarah yang bersenyawa dengan mumembisikkanku untuk mengerti bahwa kau punya seribu dada untuk setiap nafasmu yang kusesakkan.

Kau punya sejuta kaki untuk langkah yang tak terhingga untuk menjemputku kembali.

Namun, aku tak jua mengerti. Aku berpikir waktu hanya sandiwara, waktu milik setiap orang dan langkahmu yang banyak hanya untuk berleha-leha.

Ketika itu, waktu yang mengajariku, langkah menuntunku merasakan jika kau tiada.

Aku hanya akan jadi tidak siapa-siapa, setengahmu jua aku tiada.

Ayah…

Dengarlah jika terkadang aku teringat untuk mendoakanmu, berbisik untuk setiap langkahmu yang berdarah untuk sejuta resah kau mintaku kembali.

Agar kakimu selalu berjalan hingga banyak rongga yang tertutup untukmu.

Agar kau kuat untuk setiap kebohonganku dan khianatku.

Ayah…

Untuk kesekian kalinya aku mengadu.

Selamat ulang tahun Ayah.