Selamat pagi, ayah. Selamat siang dan selamat malam juga untukmu. Aku lupa kapan terakhir kali aku mengucapkan kata sapaan itu padamu. Mungkin sudah terlalu lama mata ini tak menangkap kehadiranmu di sekitarku, hingga lidahku begitu kaku untuk bahkan mengucap kata “ayah”. Bagaimana kabarmu, Ayah? Bagaimana kabar kebahagiaanmu, yang hidup di luar sana dengan pilihanmu yang sampai sekarang masih belum dapat kupahami?

Ayah, ingatkah dirimu pada saat pengambilan raporku kelas 1 SD, aku mendapat peringkat 5 di kelas? Padahal saat itu aku adalah anak yang pemalu dan penakut, tetapi rupanya aku berhasil meraih peringkat yang cukup membanggakan. Ibu senang sekali, ia memperbolehkanku makan gulali kesukaanku dan membelikan aku banyak sekali buku baru. Ayah, ingatkah saat aku mulai beranjak remaja dan sering pergi ke mall dengan teman-teman sekolahku? Saat itu ibu sangat bijaksana dengan memperbolehkan aku jalan-jalan asal selalu ingat batas waktu untuk pulang. Ayah, ingatkah saat aku mendapat juara umum 1 di bangku SMA enam tahun yang lalu? Waktu itu aku terkejut ketika namaku dipanggil ke podium pada saat upacara bendera di hari senin pertama masuk sekolah kelas 2 SMA. Dengan canggung aku menerima sertifikat dan berjabat tangan dengan kepala sekolahku yang tegas dan berwibawa, ia begitu mengingatkan aku kepadamu. Ayah, ingatkah dirimu dengan semua yang kuceritakan? Aku rasa tidak, sebab kau tidak pernah hadir di tiap peristiwa penting dalam hidupku selama ini.

Ayah, sekali waktu aku pernah mendapatkan kesempatan untuk bertukar pikiran denganmu. Saat itu usiaku 16 tahun, aku sudah cukup mengerti bagaimana situasi yang terjadi di dalam keluarga kita. Aku tahu ada pertengkaran yang terjadi antara ayah dan ibu ketika aku masih bayi dan bahkan belum bisa merangkak. Bahwa ayah adalah orang yang bebas dengan segala pilihan dan kecintaanmu pada dunia otomotif, sedangkan ibu adalah orang yang tegas pada peraturan dan gigih bekerja keras tanpa kenal lelah. Ayah dan ibu adalah dua orang yang sangat berbeda, yang entah bagaimana dipersatukan oleh pernikahan suci dan menghasilkan kakak dan aku. Tetapi rupanya kehadiran kami belum cukup untuk membuat ayah melupakan ego dan tetap hadir sebagai ayah yang baik untuk kami.

Aku belum sempat belajar darimu ayah. Yang aku tahu, seorang ayah biasanya mengajarkan anak perempuannya untuk berjuang menghadapi anak yang nakal di sekolah dengan kuat dan tegas. Ayah pula lah yang seharusnya mengajarkan aku untuk merespon gombalan lelaki yang merayuku. Aku juga belum sempat belajar mengenai kerasnya hidup darimu. Aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya membujuk ibu ketika ia sedang tidak enak hati, kalau bukan karena kakek dan nenek yang mengajariku. Terlebih, aku belum sempat belajar mencintaimu, ayah. Langkah pergimu datang terlalu cepat sebelum aku sempat mencoba mengenal kehadiranmu.

Tak dapat kupungkiri, rasa iri tumbuh dalam hatiku tatkala melihat teman-teman datang ke acara pertemuan orang tua murid di sekolah sambil menggelayut manja di lengan ayah mereka. Walaupun ibu hadir mewakili kakak dan aku, tetap rasanya sedih melihat ibu berjuang sendiri untuk kedua buah hatinya tanpa kehadiran ayah yang melengkapi. Kira-kira, dimanakah ayah saat itu? Terlalu sulit untuk kubayangkan, sebab mengenalmu saja belum sempat kulakukan dengan sempurna. Sudahkah ayah merasa mengenalku begitu dalam hingga sanggup hidup bertahun-tahun tanpa kehadiranku?

Advertisement

Ayah, mungkin pada waktu aku kecil, sekali dua kali sebenarnya kita pernah saling berpapasan di pusat perbelanjaan atau di jalan yang padat dilalui manusia. Mungkin ayah ada di antara mereka. Tapi sulit bagiku untuk hanya menerka, sebab wajahmu begitu lama tak kulihat hingga aku lupa akan rupanya. Tampankah ayahku? Hitam atau putihkah kulitnya? Tegap atau bungkukkah badannya? Seandainya ada foto ayah yang tersisa di rumah untuk kupandang, mungkin ketika kita tak sengaja bertemu di suatu tempat, aku dapat berlari kepadamu dan engkau dapat mendekapmu erat dan mengangkatku tinggi-tinggi ke angkasa, seperti yang biasa dilakukan oleh ayah-ayah lain yang sering kulihat di televisi.

Ayah, begitu besar kekecewaan yang kau hasilkan dengan kepergianmu yang tak jelas alasannya, atau yang belum kumengerti asal muasalnya. Aku terbentuk menjadi pribadi yang tertutup dan sulit memercayai orang lain, mungkin salah satunya karena ketidakhadiranmu dalam peristiwa hidupku, terlebih yang cukup sulit untuk kulalui walau bertiga dengan kakak dan ibu. Namun di balik itu semua, tetap tersimpan satu harapan kecil dalam sudut hatiku bahwa suatu saat nanti, engkau akan mencoba kembali dan meluangkan waktu untuk menikmati perkembangan kami, anak-anakmu yang sedang beranjak dewasa. Semakin besar usiaku, semakin besar pulalah hatiku untuk berusaha memahami keputusanmu untuk tak ikut ambil bagian di hidupku. Mungkin ayah memiliki alasan yang memang belum saatnya kudengar, karena ayah tak ingin aku jatuh dalam luka hati yang lebih dalam lagi. Mungkin pula sebenarnya keputusanmu untuk pergi lebih menyakitkan bagimu dibandingkan bagiku, hanya saja aku tak tahu itu. Namun apapun itu aku tetap percaya bahwa engkau adalah ayah yang mencintai kami dengan sejuta keunikan dalam dirimu.

Ayah, sampai sekarang pun, aku masih ingin belajar mencintaimu dengan sisa-sisa hati yang kulapangkan khusus untukmu.