Ayah, apakah kau ingat saat dulu kita bercanda, aku anak perempuanmu yang dekat denganmu, menceritakan keluh kesah hanya kepadamu dan aku bahagia di dekatmu.

Ayah, aku bahagia di dekatmu

Namun karena suatu hal, aku tau kau kecewa dan mungkin sangat sangat kecewa. Tahukah ayah? aku pun sangat kecewa terhadap diriku sendiri, namun entah mengapa aku tetap berkeras kepala. Karena hal itu kita menjadi tidak sedekat dulu kan ayah? Aku mungkin cemburu ayah, aku tak lagi diistiimewakan olehmu sebagai gadismu. Aku rindu kedekatan kami seperti dulu, Yah.

Aku rindu kedekatan kita dahulu, Ayah.

Ayah, sedih sekali rasanya, bagaikan terdapat jarak diantara kita. Aku sedih ayah.

Advertisement

Kini, semua lebih terasa sulit, izin atau kepercayaan mu mungkin sudah hilang untuku. Aku tahu ayah, kepercayaan itu ibarat kertas yang apabila ia kusut ia tdak akan kembali seperti semula. Tapi ayah, berikan kepercayaanmu untukku bertemu dengan teman-teman ku dahulu ayah, sungguh aku sangat merindukan mereka. Aku hanya minta izin ayah, tidak akan minta hal yang lain.

Kepercayaan itu ibarat kertas yang apabila ia kusut ia tdak akan kembali seperti semula

Sungguh aku membutuhkan kebahagiaan yang hanyak dapat ditemukan di teman-temanku ayah, aku merindukan mereka. Aku lelah berdiam diri menjadi orang yang pendiam dirumah karena aku tidak bisa bercerita kepada keluarga lagi, ingin rasanya aku bercerita semuanya kepada temanku. Ayah, aku merindukan mereka, berikan izin untuk bertemu mereka, aku merasa terbelenggu dalam masalahku sendiri, aku ingin mendapatkan solusi dari mereka.

Tolong ayah, berikan kepercayaanmu lagi untukku.

Maaf telah mengecewakannmu ayah, tapi aku membutuhkan kebahagiaan itu untuk bertemu teman-temanku.