Masih tergambar dengan sangat jelas bagaimana kau memancarkan senyum khasmu, lesung pipitmu terlihat begitu jelas, badan tegapmu yang selalu menjadi sandaran kala aku rapuh masih terasa. Rambut klimismu kini tak akan lagi bisa kulihat, suara sumbangmu yang selalu bernyanyi untukku tak kan bisa lagi ku dengar, tatapan matamu yang menusuk pandanganku tak kan lagi bisa kurasakan.

Ini hari ke lima sejak kau memutuskan untuk tidak lagi menghubungiku apalagi menemuiku, ada yang kurang dari setiap aku mengawali aktivitasku belakangan ini. Tak ada lagi sapaanmu yang selalu memberiku semangat dengan beberapa kecupan emoticon, tak ada lagi omelan kata ”rengkel” ketika aku melalaikan kesehatanku, tak ada lagi travelmate terbaik yang aku miliki sepanjang hidupku, tak ada lagi kekonyolan yang akan kita lakukan bersama, dan tak ada lagi jemari tanganmu yang memetik gitar kesayanganmu saat bernyanyi untukku.

Semua berawal dari kesalahanku, aku yang memulai semuanya memulai kedekatan kita hingga akhirnya salah satu dari kita tumbuh perasaan yang lebih dari sekedar sahabat, mungkin aku belum bisa menerimamu sepenuhnya seperti yang kau inginkan, tapi kau telah berhasil menjadi apapun untuk hidupku. Kau bisa menjadi jelmaan manusia dengan sejuta keunikanmu, kau bisa menjadi teman, sahabat, partner, travelmate, musuh, lawan debat, saudara, photographer, guru. Bahkan dalam keadaan apapun, sekalipun aku yang salah kau tetap berusaha untuk meminta maaf terlebih dulu, mencoba untuk menyapaku lebih dulu.

Kita pernah begitu dekat, sangat dekat, tapi itu dulu saat hatimu masih ingin memperjuangkanku, saat mimpimu masih membawa namaku, saat aku masih ada dalam setiap rangkaian do’a yang selalu kau semogakan, saat aku masih menari bebas di alam mimpimu, saat kau belum merasakan sakit sesakit ini.

Bukan hal yang mudah melepasmu dengan cara yang begitu cepat, aku hanya perlu proses untuk benar-benar ikhlas seperti yang kau pinta begitu juga denganmu, ini pukulan yang sangat menyakitkan untukmu. 2,5 tahun ini kau begitu banyak menorehkan senyum di bibirku, meskipun tak jarang kita saling membiarkan ego dari diri kita untuk menang, tak jarang dari kita selalu meluapkan semuanya dengan emosi.

Advertisement

Tapi untuk apapun itu terimakasih, selalu berusaha jadi yang terbaik untukku, terimakasih untuk kejutan – kejutan konyolmu yang selalu ku terima saat aku datang ke tempat kerjaku, terimakasih telah bersedia menjadi teman, sahabat, travelmate atau apapun itu disaat aku berada di titik terendahku.

Percayalah kau orang yang baik teramat baik, suatu saat nanti kau akan temukan bahagiamu bersama wanitamu yang berusaha membahagiakanmu, sementara di ujung sini biarkan aku diam-diam memelukmu dengan do’a. Biarkan aku melihatmu menikmati bahagiamu setelah proses ini, dan biarkan aku sendiri menerima balasan untukku.

Kepada lelaki yang pernah aku semogakan untuk merangkai mimpi bersamaku, tetaplah menjadi kebangganku dari kejauhan sini, bukankah ada hubungan yang lebih indah dari sekedar memiliki? Kali ini aku ingin tetap menggantungkan mimpiku bersamamu, biarkan aku selalu membawa namamu dari setiap proses yang akan aku lalui, biarkan aku menceritakan kepada semua bahwa kau lelaki yang paling memahamiku.

Satu pertanyaan yang mulai muncul di otakku, Kenapa kau begitu terobsesi untuk memiliki hubungan yang lebih dari sekedar sahabat? Kalau pada akhirnya saat kita punya hubungan lebih dari sahabat nantinya bisa saja berakhir, aku akan kehilangan kamu begitu juga denganmu akan kehilangan aku. Tapi, ketika kita tetap memilih untuk menjadi sahabat, aku janji kita akan selalu bersama sampai maut memisahkan kita, karena suatu saat aku butuh pelukan kamu saat ada yang mematahkan hatiku.

Aku sayang sama kamu, kaya bintang yang tak akan pernah meninggalkan langit.