Teruntuk bunda yang kasihnya seluas samudra dan pengorbananya setinggi gunung-gunung yang menjulang……

Hari ini adalah hari dimana anak indonesia merayakan hari spesialnya. Suatu hari yang juga spesial bagiku.Hari disaat aku dan anak-anak lainnya belajar memahami peran dan pengorbanan seorang ibu.

Teruntuk bundaku yang aku sayangi walau daku jarang mengucap kata sayang secara terang-terangan….

Walau daku sering lupa bagaimana kasih sayangmu diwaktu aku kecil.Di hari ini, aku memandang langit di ujung bumi sambil memikirkan betapa luas kasih sayangmu. Ketika engkau berjuang melahirkan seorang anak kedunia dan ketika engkau mengajarkanku untuk berjalan serta melangkah di bumi.

Aku teringat di pagi itu, di pekarangan rumah engkau mengajariku melangkah, menggerakan sendi-sendi sepasang kaki kecilku menapak tanah. Semakin lama aku semakin terbiasa untuk menggerakan kaki kecilku, semakin cepat langkahku hingga aku pun terjatuh di antara bebatuan kecil di pekarangan rumah. Engkau terkejut. Tanpa ada aba-aba apapun engkau mengangkatku dan mengusap kotoran-kotoran yang menempel di badanku.

Advertisement

Kini, aku semakin tumbuh dewasa dan aku semakin sadar bagaimana pengorbananmu untuku, Bunda. Aku sadar engkau adalah pahlawan yang nyata bagiku. Selalu berjuang, selalu mendidik dan menjadi panutanku. Berjuang mencotohkan suri tauladan yang baik bagiku. Selalu mengingatkanku untuk mengingat pada Sang Maha Pencipta.

Engkau bagaikan seekor burung merawat anaknya. Engkau selalu merawat daku tanpa henti, tanpa memikirkan dengan apa anakmu ini membalas semua pengorbananmu.Tanpamu, aku hanyalah burung kecil yang tak bisa mengepakkan sayap. Tanpamu, aku bagaikan burung yang terbang tanpa arah. Tak tahu mesti kemana aku melangkah, tak tahu bagaimana kelak cara mewarnai dunia. Aku seperti hilang arah tanpa didikanmu padaku, Bunda.

Bunda, aku merasa kasih sayangmu tak bersyarat bagiku…….

Saat engkau terjatuh sakit, engkau tak pernah mengeluh. Bahkan, aku ingat kau masih saja dan selalu memikirkan anakmu ini. Aku ingat di bawah panas terik menyengat, badan rentamu yang sedang sakit membukakan gerbang besi rumah hanya untuk menyambut anakmu ini pulang. Pulang dari mencari ilmu yang sebenarnya aku tak tahu.Untuk apa ilmu itu tanpa didikanmu, Bunda.

Dulu aku pikir itu hal kecil yang biasa dilakukan seorang ibu, namun kini aku sadar begitu besar arti dari hal yang aku anggap dulu kecil.