Sebenarnya surat ini tak kan cukup mewakili kerinduan hatiku padamu. Waktu menjadi saksi betapa detik-detik melambat saat aku tak kunjung usai memikirkanmu. Apa sekali dalam hidupmu, kamu pernah memikirkanku? di sela jadwalmu yang padat pernahkah kamu berpikir untuk mencariku? Apa kamu bertanya tentang jodoh? Tidakkah kamu penasaran?

Hal itulah yang terkadang membayangiku sesaat sebelum menutup mata dan terlelap dalam mimpi. Kamu rahasia dalam masa depanku yang sangat ingin kusingkap. Tak sabar rasanya menunggu peristiwa sakral yang akan menyatukan kita. Aku tak tahu, entah akan berapa lama lagi penantian ini?

Aku selalu meminta pada Rabbku untuk menghadirkan seseorang yang bisa membimbingku ke jalan-Nya. Aku ingin mencintai karena Allah, dicintai juga karena Allah. Menyambut cinta kita bersatu di bawah payung ridha-Nya melalui ikatan suci pernikahan. Aku selalu berharap kita termasuk dalam tujuh golongan yang akan mendapat naungan di akhirat kelak, salah satunya: dua orang yang saling mencintai karena Tuhannya.

Duhai calon imamku..

Aku berusaha mengerti jika penantian ini terasa lebih lama dari yang kukira. Meskipun aku sangat merindukanmu, tapi aku tidak mau menjadi seseorang yang menghalangi cita-citamu. Aku juga punya mimpi yang ingin kuwujudkan. Biarkan kita tumbuh meraih mimpi masing-masing meski di tempat yang berbeda. Aku percaya, Tuhan akan selalu memberikan yang terbaik untuk kita.

Advertisement

Saat kita bertemu mungkin kamu akan menganggapku hanya sebagai gadis pendiam yang tidak bisa mengekspresikan cinta. Ya, benar. Aku memang tidak pandai berperilaku manis dan romantis di depan orang yang belum halal bagiku.

Kamu tahu?

agamaku saat ini bagai rembulan sabit yang cantik. Agamaku akan genap sempurna menjadi purnama yang mempesona saat kamu dengan mantap menjabat tangan ayahku sambil berjanji di hadapan Ilahi Rabbi menjadikanku istrimu. Mungkin tak kan dapat kubendung air mataku mendengar dari kamar pengantin kita ketika janji itu diucapkan. Juga berkelebat pikiran tentang kedua orang tuaku bahwa sebentar lagi aku akan meninggalkan mereka. Terbayang wajah ayah yang sudah menua dan belum cukup baktiku padanya.

Hei, kamu harus berterima kasih pada ayah. Dia yang sudah merawatku sampai sebesar ini. Menjagaku dengan baik hanya untuk diberikan padamu.

Saat kamu menjadi suamiku nanti, maka izinkan aku membaktikan hidupku untukmu. Saat itu aku hanya boleh melakukan sesuatu atas izinmu. Ridhomu adalah ridho Tuhanku, maka aku berharap kamu bijak dalam menempatkan izinmu sehingga tidak membuatku merasa seolah ‘puteri dalam sangkar’.

Di antara semua yang kukenal, kamu mungkin bukanlah pria paling tampan yang pernah kulihat. Aku juga pernah bertemu dengan seseorang yang lebih pintar darimu.

Eittss…

Tunggu, jangan cemburu dulu..

Aku tidak akan membandingkan dirimu dengan mereka karena saat akad itu berlangsung, kamulah satu-satunya pria yang menyinggahi hatiku. Aku tidak silau hanya dengan ketampanan dan kecerdasan semata. Kenyataannya aku hanya bersedia menjadi istrimu. Hanya kamu yang kucintai.

Aku memang mendambakan pria romantis. Tapi jika Allah mentakdirkanku bersuami seseorang yang jauh dari harapanku. Aku akan membuang segala kriteriaku tentang pasangan ideal dan mulai menerimamu. Memberimu kebebasan untuk mengekspresikan cinta yang kamu punya dengan caramu.

Bersama-sama kita membangun keluarga dengan penuh kasih dan limpahan cinta. menciptakan surga di istana kita yang sederhana. Seiring berjalannya waktu akan ada buah hati kita yang membuat hidup lebih berwarna. Menjadikan kita sosok Abi wa Ummi hingga kehidupan terus berlangsung akan ada anggota-anggota baru lainnya yang lahir ke dunia ini. Saat waktu mulai menelan usia kita menjadi berpuluh-puluh, tetaplah gandeng tanganku. Aku ingin menua bersamamu, menghabiskan sisa hidupku.

Dariku,

Gadis yang masih setia menunggumu