Kamu masih ingat pada bintang malam yang cahayanya menyelimuti kita berdua di hamparan rumput bebas yang dikelilingi ribuan kunang-kunang yang menari-nari disekeliling kita? Bintang yang selama ini menerangi jalan kita saat malam gelap gulita agar kita tidak tersandung dan jatuh terantuk kerikil-kerikil yang tergeletak hampir di seluruh sudut jalan?

Kau dan aku sama-sama suka melihatnya, menatap dan menyaksikan cahayanya di bawah rembulan. Malam itu hangat, tapi kamu terus memeluk jemariku yang dingin.

Musim-musim berganti, pohon-pohon di sekitar kita mulai rontok dimakan angin. Kadang hujan deras, kadang hanya gerimis kecil. Bangunan tua yang dulu tempat kita bernaung saat hujan sekarang menjadi gedung tujuh lantai. Kamu pergi ke negeri seberang nan jauh di sana hingga tak dapat lagi tampak olehku di sudut mata.

Kamu bilang perhatikan bintang itu dikala aku rindu padamu.

Bintang itu masih sama, tetap berada di tempatnya semula. Aku duduk sendiri, kali ini kedinginan. Kunang-kunang sudah terlelap (mungkin)? di dalam sarangnya. Aku menatap ke atas, ke arah bintang kita.

Advertisement

Apa kamu menatap ke langit juga? Apa kamu merasakan hal yang sama di seberang sana? Aku berdoa semoga kamu baik-baik saja.

Bintang itu cahayanya tidak seterang dulu. Cahayanya berpendar-pendar, mulai redup.

Atau ini salah mataku yang sudah menggenang?

Bukankah menyakitkan ketika kita hanya bisa memeluk rindu dari kejauhan?