Masih melekat bagaimana caraku memperjuangkanmu sampai membawaku pada titik yang sama sekali tak bisa ku mengerti, sebuah keberanian besar yang selalu mendorongku untuk berlari kearahmu, berjalan diantara ribuan mil jauhnya, menyebrangi Selat Sunda yang luas dan menantimu diatas kereta Logawa yang dingin. Sebegitu besarkah perjuanganku untukmu, karena menyimpan gundukan rindu untuk bertemu kala itu? Aku menyukai diriku yang memperjuangkanmu saat itu. Sungguh!

Dan begitulah semua berlalu, rupanya masa depan benar-benar tidak bisa ditebak apa jadinya. Kepergian adalah satu-satunya jalan yang sesungguhnya tak pernah kusukai, bilamana dirimu berfikir aku adalah orang jahat, tamak atau egois maka benarlah itu. Aku adalah sosok yang seperti itu, pengecut karena tak mampu berjalan lebih kuat, lebih bebas dan lebih berani untuk memperjuangkanmu.

Aku tahu, kita harus tetap berjalan kedepan untuk meninggalkan cerita yang kemarin. Tapi demi Tuhan, aku tak pernah berhasil melakukan itu. Semua hal tentang dirimu, bayanganmu bahkan cahaya diwajahmu adalah cerminan yang paling kukenang. Aku selalu menyesali apa yang terjadi, terkadang menangisi dan mengharap sesuatu yang sudah tidak bisa kembali. Kebodohanku mengantarkan aku pada kemalangan yang besar.

Maka, apalah yang bisa kulakukan kecuali menimbun banyaknya rindu yang kadang tak bisa kulepas secara bebas dan tak akan mampu diriku menampungnya sendirian. Membayangkan wajahmu hanya menciptakan kristal airmata yang tak bisa kubendung, terkadang membuatku terisak dalam tangis dan kadang membuatku tersenyum sakit.

Maafkan jika ini sekiranya begitu menganggumu, tapi ketahuilah bahwa pada siapa aku harus menumpah-ruahkan emosi rindu ini?

Advertisement

Teruntuk dirimu yang selalu kurindukan dalam diam, tiada habis aku mengenang tentang dirimu di kala senja, di tepian pantai atau dinginnya malam. Begitu aku menyadari hal-hal indah yang pernah terjadi, kenyataan selalu membuatku merasa pahit bahwa dirimu sudah tidak bisa tersentuh lagi. Sampai saat ini, kepergianmu adalah hal paling sengsara, nyelekit dalam ingatanku dan nyaris membuatku terbunuh lebih dari apapun.

Teruntuk dirimu yang selalu kurindukan dalam diam, bagaimana kabarmu disana? Apakah saat ini seseorang tengah mengandeng tanganmu? Apakah orang itu berusaha kuat menyakinkanmu soal penawaran masa depan yang indah untukmu? Andai saja dia tahu, betapa irinya aku melihat dirinya berjuang lebih keras dibanding perjuangan yang pernah kulakukan.

Teruntuk dirimu yang selalu kurindukan dalam diam, tidakkah dirimu mengetahui betapa menyiksanya rindu yang kutampung dalam diam? Betapa menyiksanya merindukanmu diantara senyum paksa yang membuatku seolah dirimu tak pernah ada. Sekat, layaknya memaksakan haus ditengah padang pasir.

Maafkan jika aku terlalu pengecut, karena tak mampu mengutarakannya pada dirimu secara langsung, malah menggulungnya, menumpahkannya pada sajak, diksi atau apapun bentuknya, kemudian mengirimnya lewat semesta yang jelas tak akan bisa kamu terima dengan benar. Aku hanya takut untuk mengatakannya, bagaimana jika ini semua justru menganggumu?

Andaikan satu kesempatan akan datang lebih awal, hal yang paling ingin kulakukan adalah mendekapmu lebih kuat dan mengatakan perihal perasaan yang menyakitkan ini. Aku merindukanmu, sangat merindukanmu. Itu saja.

Teruntuk dirimu yang selalu kurindukan dalam diam, terima kasih untuk dirimu yang telah diciptakan oleh Tuhan. Aku tahu, bahwa kisah ini cukup sampai disini dan tidak akan berhasil kedepannya. Perihal kesakitan dan kerindukanku jangan kamu fikirkan, semua ini akan menjadi kebiasaan bagiku, hatiku akan baik-baik saja. Aku tidak akan menuntut dirimu untuk bertanggung jawab atas rindu ini. Sungguh!

Satu hal yang perlu dirimu ketahui adalah engkau adalah penawaran terbaik yang pernah Tuhan berikan padaku. Terima kasih karena pernah singgah.