Bu, bercerita tentangmu tidak akan ada habisnya. Engkau adalah tanda cinta tanpa jeda bagi anak-anakmu. Engkau adalah wanita yang mengandung dan melahirkanku dan adik-adikku. Dengan segala upaya, bersama ayah, engkau menjaga kami dengan begitu baiknya bak permata di dalam perutmu. Berapa lama aku berada di perutmu, Bu? Apakah itu sekitar empat puluh minggu, mungkin kurang atau lebih? Ya, Bu, janin dalam perutmu dua puluh tahun yang lalu itu adalah aku.

Aku yang dua puluh tahun lalu menikmati kehidupan yang nyaman dalam tubuhmu, kini menjadi aku yang beranjak dewasa, Bu. Menjadi gadis yang berusaha sekuat tenaganya untuk bisa membalas segala kebaikanmu. Terima kasih, Bu. Perjuangan empat puluh minggumu tidak akan sia-sia.

Bu, percayakah jika kukatakan bahwa engkau adalah bentuk kenyamanan yang sulit kutemukan gantinya? Engkau adalah gambaran dari ketulusan yang tidak akan ada habisnya, perhatian yang tidak pernah berjeda dan terus mengalir bahkan ketika aku dewasa. Bersamamu, akan ada banyak hal yang menjadi bahan cerita.

Bisakah kita menghitung berapa lama kita bercengkrama setiap harinya? Ketika aku kecil, engkau yang mengajakku berbicara, menceritakan dongeng sebelum tidur dengan tepukan lembut di pundak dan ciuman di keningku sebelum benar-benar memejamkan mata. Ketika tumbuh menjadi anak sekolah dasar, engkau yang setiap pagi membuatkan sarapan sejak pagi buta dan dengan segala kepayahannya mempersiapkan kebutuhan sekolah anak gadismu.

Meski masa remajaku tak engkau temani dan hari-hariku terasa mati. Kuhabiskan lebih dari tujuh tahun hidup berjauhan denganmu, Bu. Tidakkah engkau bertanya seberapa rindunya aku padamu, Bu? Semenjak engkau putuskan untuk hidup terpisah denganku, ayah, dan adik-adikku, kurasa aku merasa luka meski terlambat menyadarinya. Rasanya hidupku mulai berbeda dan tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Advertisement

Dongeng yang kubangun sejak sekolah dasar, yang seharusnya ada engkau dalam setiap fase kehidupanku, perlahan-lahan hancur, Bu.

Kemudian pada akhirnya, di usiaku yang ke-dua puluh, aku bisa bertemu sedekat ini denganmu setelah bertahun-tahun pertemuan kita hanya sebatas di hari raya. Baru di usiaku ke-dua puluh, aku bisa mendengarkanmu menanyakan kesibukan apa saja yang kumiliki, cerita apa saja yang bisa kita bagi, dan dengan penuh cinta engkau memasakkan makanan kesukaanku sambil bercerita tentang pagi harimu yang penuh dengan canda tetangga sebelah rumah.

Bu, dalam bola matamu bisa kulihat ketegaran yang amat hebat. Engkau bertahan dalam tujuh tahun perpisahan dan aku tahu benar perjuanganmu untuk sampai di titik ini tidaklah mudah. Bu, bagaimana bisa engkau setegar itu? Bagaimana senyum itu dapat begitu mudah terlukis di wajahmu?

Bu, engkau perlu tahu, sejak kepergianmu dari rumah, momen bersamamu adalah hal yang sangat langka bagiku. Memiliki waktu untuk bertemu denganmu adalah kesempatan yang paling kusyukuri setiap detiknya. Ada hal yang tidak bisa didefiniskan dalam dirimu, Bu. Caramu bercerita, memandang, memperlakukan, menanyakan kabar dan membicarakan hal-hal remeh yang tidak pernah kuperhatikan, merupakan kegiatan-kegiatan yang tidak bisa kutemukan dalam diri siapapun, bahkan ayah sekalipun.

Dan ketegaran hatimu, bisakah engkau mengajarkannya untukku? Jujur saja, kadang aku tak setegar itu, Bu. Kelak, aku ingin menjadi dewasa dengan ketegaran sehebat milikmu. Aku akan bahagia di masa depan dan mencintaimu sebagai ibu yang telah mencintaiku dengan sangat baik.

Bu, mungkin aku memang tidak terlahir dari ibu yang berlatar pendidikan tinggi, yang gelar sarjana atau magister berderet di belakang nama lengkapmu, atau lulus dengan toga di kepalamu. Tidak memang. Engkau wanita sederhana, Bu. Pendidikanmu hanya sampai Sekolah Menengah Atas. Tetapi, bukan itu yang terpenting bagiku. Ketulusan cintamu yang membuatku terlena dan ingin terus menghabiskan waktu bersamamu. Bersamamu, Bu, aku mampu menjadi diriku seutuhnya. Aku tetap menjadi aku tanpa mengubah posisiku sebagai anak yang tetap bisa bersikap manja padamu.

Hari ini, Bu, aku membayar keinginanmu bersekolah tinggi. Hari ini juga, dan semoga sampai ke depannya, aku akan menjadi bagian dari mimpimu. Maka kuucapkan banyak terima kasih dan rasa syukur tiada henti untuk doa-doamu atas kesuksesan studiku. Berdoalah, Bu, agar mimpi-mimpimu yang sempat rapuh itu tumbuh bersamaku dan mengiringiku sampai tua nanti.

Bu, engkau adalah bentuk tanda cinta Tuhan yang tidak pernah bisa kudefinisikan. Engkau hanya ada satu, dan entah mengapa tidak ada satupun yang bisa menyamaimu dan menggantikan posisimu. Ibu tetaplah ibu, wanita paling istimewa yang dianugerahkan Tuhan sebagai seseorang yang melahirkanku ke dunia. Jarak memang pernah membuat kita menjalani kehidupan masing-masing dalam jembatan bernama perpisahan. Tapi, siapa yang bisa memisahkan kasih sayang ibu pada anaknya atau kerinduan anak pada ibunya? Bagaimanapun, engkau adalah pemilik dari segala kecintaan bagi anakmu, terlepas berapa lama kita terpisah. Karena ibu pernah menjadi satu dengan anaknya dalam rahim selama sembilan bulan, dan itu menjadi sebuah tanda cinta setiap detiknya.

Karena setiap harinya adalah hari ibu bagiku, maka tidak perlu menunggu 22 Desember tiba untuk mengungkapkan bagaimana cintanya aku terhadapmu kan, Bu? Aku hanya perlu menyimpan namamu dalam baris-baris doa selepas lima waktuku, kemudian membawamu dalam setiap planning kehidupan di masa depanku.

Ibu, jika suatu hari engkau menemukan tulisan ini dan membacanya dengan penuh air mata karena kata-kata di dalamnya sepenuhnya untukmu, maka kuucapkan selamat dan terima kasih. Selamat telah membaca karya anakmu yang tidak pernah sampai padamu, dan terima kasih untuk segala cinta tanpa jeda untuk anak-anakmu. Selalulah sehat dan bahagia, karena anak-anakmu sedang berupaya memperjuangkan masa depan mereka untuk membahagiakanmu di usia senja. Panjang umurlah, Bu, sehingga nantinya engkau akan melihatku berdiri dengan bangga memperkenalkan lelakiku padamu dan menceritakan padamu bagaimana rasanya menghadapi kehidupan yang berbeda jauh dengan hidupku yang sekarang. Nanti, Bu. Tunggulah.

Percayalah, selalu ada rindu yang tumpah untukmu dari anak-anak yang telah tumbuh dewasa atas kecintaan dan doa-doamu, Bu.