Aku wanita, ya aku wanita yang berjalan dengan menopang tubuhku sendiri. Ketika aku berlari, aku mengayuh kakiku agar lebih cepat dengan sendiri. Seorang diri.

Aku bukan bunga yang tak laku ketika seorang penjual bunga menjajalkan bunganya, tapi aku selalu menjaga sucinya kelopak ku tanpa sentuhan. Itu pilihanku. Meski pahit melihat getaran cinta pasangan lain yang bergejolak, aku tetap menjaga keseimbanganku sendiri.

Aku iri? ah ya, bagaimana bisa aku menipu diriku untuk tidak iri, terkadang aku berkata bohong pada Tuhan, bahwa kamu tak kunjung datang. Terkadang aku bahkan marah, bagaimana tidak? ketika jemari wanita lain telah terlengkapi sela – sela yang kosong, jemariku tetap dingin, mengapit sendiri dengan jemariku yang lain.

Sama. Sama lengkap dan terpenuhi, namun terasa janggal.

Usiaku semakin bertambah, hariku semakin berat aku jalani. Setiap jam yang aku habiskan semakin rumit. Setiap menit yang aku lalui tak pernah aku sia – siakan memikirkanmu. Setiap detik hembusan nafas yang aku hirup kian menyesakkan seluruh rongga paru – paru ku yang kerap sesak dengan sempitnya waktu ku memikirkanmu. Meski kehadiranmu tetap menghipnotis setiap gerakanku. Kamu memang ilusionis luar biasa!

Advertisement

Kamu selalu tahu bagaimana aku mampu melumpuhkanmu dalam pikiranku, dan kamu kembali hadir. Jika kamu magnet, maka kamu memiliki potensi yang kuat untuk menarik hatiku dalam bayanganmu.

Dalamnya harapanku pada hadirmu, membuatku terjatuh begitu dalam kedalam gelapnya lubang – lubang yang menarikku untuk menikmati manisnya jatuh karena cinta. Namun, itulah cinta. Selalu tahu bagaimana untuk kembali, selalu tahu jalan pulang meski telah terjungkir kedalam manisnya kehadiran cinta yang kamu bawa dan tawarkan.

Kepadmu yang aku tahu membaca tiap guratan hatiku yang terukir dalam manisnya ungkapan cinta ini, aku tahu kamu sedang tidak bersembunyi.Hanya, kamu dan aku sedang menikmati kebebasan, dan aku tetap menyediakan tiap sisa waktu penantian harapanku kepadamu.

Aku titip ya? Titip untuk kamu jaga selalu rasa rindu tak tertahnmu untukku, dan aku untukmu.

Apa kata Orangtua? Ah ya, bersabarlah! kita hanya terpisah atas ijin Tuhan.

Dan kembali atas ijin – Nya pula.