Aku dulu mungkin adalah seseorang yang istimewa, menurutmu aku yang begitu susah kau perjuangkan dan aku begitu susah kau ajak berbicara. Katamu aku adalah gadis keras kepala yang berbeda yang tidak pernah kau temui sebelumnya di dunia ini dan bahkan sungguh sangat tertarik denganku karena bagimu aku beda, entahlah apapun yang keluar dari mulutmu dulu tak pernah ku anggap karena aku memang gadis keras kepala yang tidak terlalu tertarik dengan rayuan .

Kalau masih kuingat kau memang memperjuangkanku begitu keras kau selalu rela pergi ke luar kota hanya untuk menemuiku dan aku begitu teganya tak terlalu menganggapmu bahkan bisa di bilang mengacuhkanmu entah apa yang kufikirkan saat itu, kau selalu rela pergi ke tempat yang jauh dari keberadaan mu hanya untuk menemuiku kau selalu berjuang sekeras itu tapi aku masih dengan keangkuhanku tak pernah melihat itu.

Hingga suatu hari kau mulai kelelahan dengan usahamu yang mungkin sudah terlalu keras dan tak kunjung ku hargai sama sekali dan kau memberanikan diri mengungkapkan segala apa yang kau rasakan kepadaku dan berharap jawaban yang indah akan terlontar dari bibir mungilku. Namun salah justru aku meminta pergi dengan begitu lembutnya dan kamu bersikukuh tinggal.

Suatu hari karena aku mulai terusik dengan tingkahmu yang menurutku sangat menganggu aku mulai bersikap kasar padamu dan aku masih sangat ingat kau begitu dalamnya kecewa dengan tingkahku, dan hari ini akan ku akui maafkan aku sedikitpun aku tak pernah berniat seperti itu semua ku lakukan terpaksa agar kau sadar kalu kau terus disini kau akan jauh lebih sakit

Tapi beberapa hari belakangan ini entah mengapa bayangan tentang mu terlintas begitu nyata aku mengingat segala hal tentangmu mungkin bahkan diam-diam aku mulai merindukanmu namun kau tak pernah berani untuk mengucapkan hal itu karena aku tak cukup nyali dengan ini semua ku beranikan diri melihat social mediamu.

Advertisement

Namun rindu tak pernah tau diri dia tak pernah cukup kalau hanya seperti itu aku mulai berdoa diam-diam dan hebatnya beberapa hari kemudian harapn itu terwujud, kau menghubungiku dengan begitu akrabnya. Oh, Tuhan terimakasih ini memebuat rasa syukur ku tak berkesudahan.

Terimakasih telah menengokku sebentar karena diam-diam aku sedang merindukanmu.