Sejak memilihmu selalu ada harapan untuk hidup berdua denganmu, namun sepertinya aku terlalu berlebihan dalam meminta.

Satu kebahagiaan yang tak pernah terbayang dalam hidupku adalah bertemu denganmu, lelaki yang dahulu membuatku selalu rindu dan jatuh cinta. Satu kebahagiaan yang selalu aku idam-idamkan semenjak aku bertemu denganmu, kekasih yang selalu mengatakan cinta dan sayang kepadaku.

Bahkan dahulu, dengan bujuk rayumu yang luar biasa dengan mudah menggores senyum di bibir ini. Yah, namun itu dulu, jelas dulu, saat kita masih manis-manisnya berhubungan. Saat kita masih lengket-lengketnya berduaan. Saat aku sungguh-sungguh berharap kaulah yang pertama dan terakhir untukku. Namun kini, itu hanya menjadi sebuah kenangan, kenangan pahit yang tak pernah ingin teringat dan terulang kembali.

Luka itu belum sembuh, bahkan mungkin tidak bisa sembuh. Karena goresan luka itu terlalu banyak dan dalam untuk dihilangkan. Seberapapun aku berusaha, ia tetap tak hilang. Bahkan saat aku memutuskan untuk terikat dengan hubungan yang lain. Luka itu masih ada. Bayanganmu tak pernah mau pudar, bahkan hanya sebaris namamu saja tak bisa.

Tanpa kamu sadari, kamu telah mengkrangkeng hati ini dengan sangat kuat, hingga aku perlu tenaga luar biasa untuk melepasnya.

Advertisement

Kamu, lelaki hebat yang telah menoreh luka sedalam ini, aku ucapkan terima kasih. Karenamu dan karena luka ini aku belajar banyak akan kesalahan yang kuperbuat di masa lalu. Kamu yang meninggalkanku dengan torehan rasa kecewa, amarah, dan rasa sesal, menyadarkanku bagaimana seharusnya aku memberikan singgasana hati di dalam hatiku kepada seseorang, karena sesungguhnya tidak semua orang bisa berada di posisi itu, bukan? Termasuk kesalahanku yang dengan mudah memberi singgasana itu untukmu.

Dan untukmu lagi, terima kasih atas rasa trauma yang kau tanam jauh di dalam hati dan benakku. Karenamu, aku sungguh tak bisa menerima semua orang untuk merasakan singgasana hatiku dengan cara yang sama. Yah, menjadi terlalu pemilih mungkin. Karena untukku, sejarah lalu adalah sejarah yang tak boleh terulang, termasuk terulang bersama orang sepertimu. Manusia yang mudah aku cintai, namun dengan mudah pula menyakiti hati ini.

Namun, tak mengapa. Bukan seutuhnya salahmu. Walau terlalu banyak luka yang menggores, harapku selalu yang terbaik untukmu. Mendapatkan kebahagiaan yang kamu ingin, dengan kepastian bukan bersamaku. Hanya saja mungkin lebih baik kau belajar dari lukaku ini. Yah, setidaknya untuk tidak membuat gores luka di hati yang lain. Karena jika kau tau, tak ada satupun hati yang ingin terisi oleh gores luka yang menyakitkan. Karena hati itu untuk dicintai, bukan disakiti.

Tenang, seribu kali kau menggores luka dihati, aku akan terus mendoakan demi kebaikkanmu, termasuk mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku.

Tenang saja, jangan terlalu khawatir padaku. Kini aku yang sekarang bukan aku yang dulu yang mudah kamu lukai begitu saja. Namun aku yang sekarang adalah aku yang lebih kuat, aku yang lebih kokoh dengan hati ini. Karena aku yang sekarang telah berjanji untuk bahagia di sejarah masa depanku. :))