Tak bisakah kau lihat, bahwa patah hati bukan akhir dari cerita hidupmu. Buka matamu, telingamu. Lihatlah, dengarlah. Bahkan rasa sakit hatimu tak sebanding dengan penderitaan saudaramu.

Kau mungkin pernah jadi penyemangat dan penggembira. Namun pasti, kau akan juga menjadi pengecut dan pendiam. Itu bukan masalah. Karena ada masanya kau untuk mengatur hatimu. Kau mungkin pernah membangkitkan orang, tapi akan ada masanya kau yang butuh seseorang untuk membawamu bangkit kembali. Tak apa. Tahukah kau? Bahkan seorang hebat pun butuh uluran tangan saudaranya.

Kau mungkin pernah jadi yang terbaik, tapi ingatlah bahwa kau akan menjadi yang paling terpuruk pada masanya nanti. Lagi-lagi tak apa. Bukankah Tuhan sudah mengatur siklus hidup kita. Kau mungkin pernah jadi orang yang benar-benar dianggap tapi akan ada masanya kau tak didengar bahkan meski itu rumahmu sendiri. Tidak masalah. Bukankah orang lain juga berhak untuk tak mendengarmu.

Tahukah kau, wanita. Yang sedang terpuruk dalam pesakitanmu kini, akan ada masanya kau bangkit menjadi kuat dan mampu bersembunyi dalam tawamu kembali. Tahukah kau, wanita. Bahkan kekuatanmu saat ini adalah gambaran betapa kau mampu bersembunyi dalam kelemahanmu. Tak ada yang salah dengan menjadi wanita kuat, pun wanita lemah. Keduanya tak menyalahi takdir. Bahkan si kuat akan kembali menjadi lemah, karna sejatinya seorang wanita masih memerlukan tempat persembunyian ternyamannya. Dibalik punggung lelakinya.

Untukmu, wanita yang mungkin atau sedang sakit hati kemudian kau merasa dirimu paling lemah. Ingatlah, tak apa menjadi lemah, asal tak selamanya. Kau boleh terpuruk tapi bukan berarti selalu menjadi yang terburuk. Dan yang terpenting, kau boleh sakit hati tapi jangan pernah kau berhenti peduli.