Dear kekasih hatiku,

Terimakasih karena kamu masih bersamaku hingga selama tujuh tahun lebih ini kita menjalin sebuah hubungan. Kuakui, aku begitu terpesona akan dirimu. Karena kamu adalah lelaki pertama yang menjadi kekasihku. Aku pun berharap kamulah yang terakhir.

Awal kita berkenalan hanya lewat sebuah aplikasi chat yang semata iseng-iseng saja. Masih selalu teringat di benakku, sebulan lebih kita berhubungan dan berkomunikasi lewat sebuah aplikasi tersebut. Aku hanya iseng saja ingin membuat kenangan manis bersamamu. Lantaran ungkapanku tersebut, kamu memikirkannya dan meminta petunjuk dari Tuhan. Keesokan harinya, kamu dan aku menyepakati untuk menjalin sebuah hubungan kekasih.

3 bulan berlalu. Kita berdua tak pernah saling jumpa. Hanya komunikasi lewat sebuah media saja. Tak pernah bertatap muka secara langsung. Hanya saja, ada getaran yang berbeda saat aku telah memiliki seorang kekasih. Ya, baru pertama kali aku menjalin hubungan asmara. Saat itu, aku masih mengenakan seragam putih abu-abu. Dengan polosnya aku tersenyum-senyum sendiri ketika membaca pesan singkat darimu. Mungkin ini yang namanya orang lagi kasmaran, ya?

Akhirnya, hari yang dinanti pun tiba. Kita berdua bertemu secara langsung. Berbagai persiapan telah kulakukan. Mulai dari memilih baju terbaik, berdandan, dan memberikan penampilan yang memukau saat pertemuan pertama kita. Sebelum berjumpa denganmu, aku sempat melontarkan sebuah permintaan padamu:

Kalau kamu beneran sayang sama aku, genggam tanganku ya selama kita jalan nanti?

Advertisement

Aku pun menaiki sebuah eskalator dan tak kusangka dua tangga di atasku itu adalah kamu. Kamu memilih belok ke kanan dan aku ke kiri. Kutatap kamu dari seberang. Kamu pun mengetahui keberadaanku dan menghampiriku. Sempat kurasakan canggung karena ini kali pertama aku berduaan dengan seorang lelaki yang menjadi kekasih hatiku. Ternyata, permintaanku pun kamu kabulkan. Kamu genggam erat tanganku selama kita jalan. Dag dig dug… Kurasakan detak jantungku begitu cepat.

Berbulan-bulan telah kita lalui bersama, hingga pada suatu kesempatan bibir kita berdua pun saling bertautan. Ya, itu ciuman pertamaku yang kuberikan padamu. Tak kusangka pula setelah kita berciuman, kamu menitikkan air mata penuh haru. Tiba saatnya pula aku mengadakan sebuah sweet seventeen party. Betapa senangnya di hari bahagiaku ini karena telah memiliki kamu sebagai kekasih hatiku. Kamu bagaikan pangeran yang telah memberikan warna dalam duniaku.

Bertahun-tahun pun telah kita lewati. Hingga tahun ketujuh, kita masih bersama dan menggenggam semua impian berdua. Sayangnya, pada tahun ketujuh ini hubungan kita diuji begitu luar biasa dan ujian itu ada padaku. Aku merasakan hubungan ini begitu hambar dan hampa. Kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu dan terkadang lupa untuk memberikan kabar padaku. Kamu begitu acuh dengan diriku yang terkadang rindu akan hangatnya kebersamaan kita berdua.

Lantas, dalam kehampaan itu hadir sesosok lelaki yang begitu mencuri perhatianku. Lelaki itu mampu memberikan kehangatan yang belakangan ini kamu dinginkan.

Kamu pun tak sadar bahwa aku telah membagi hatiku secara perlahan pada lelaki tersebut. Seharusnya hanya ada satu ruang untukmu, kekasih hatiku saja. Kamu tetap mengacuhkanku dengan kesibukanmu. Kamu membiarkanku terlarut akan perasaan dan pikiranku sendiri. Aku pun memutuskan dan memberanikan diri untuk mengenal lelaki itu lebih dalam lagi dan pergi berduaan dengannya. Sehingga kudapatkan kesenangan dan kebahagiaan dari lelaki lain.

Selama enam bulan lamanya aku menjalin kedekatan fisik dan emosional dengan lelaki tersebut.

Maafkan aku, kekasih hatiku karena kubiarkan hati ini terbagi untuk lelaki tersebut. Kamu yang dengan tega mengacuhkanku dan memberikan kesempatan itu pada seorang lelaki.

Hingga pada suatu saat, kamu pun tersadar bahwa kini aku telah membagi hati padanya. Kamu pun memohon padaku untuk memberikan kesempatan dan tidak akan mengacuhkanku lagi. Dengan setengah hati, kubuka kesempatan itu padamu. Kamu mulai berubah. Kamu menjadi seorang lelaki yang selalu memberikan perhatian padaku, meskipun kamu sibuk. Kamu tak lupa mengabariku, mencari tahu keberadaan, serta kesibukanku. Aku sendiri yang terkadang masih berulah untuk mencuri waktu berjumpa dengan lelaki tersebut.

Suatu waktu lagi, kamu berhasil mengetahui hubunganku dengannya. Kamu pun masih dengan sabar dan setia padaku. Walau terkadang kamu menitikkan airmata penuh kekecewaan padaku.

Maaf. Sekali lagi, maafkan aku. Namun apa dayaku untuk saat ini? Hatiku masih terbagi dengan lelaki lain. Perasaanku ini masih begitu besar pada lelaki lain. Maaf dan terimakasih karena kamu telah begitu sabar dan setia di sampingku hingga saat ini. Bantu aku perlahan untuk menumbuhkan lagi sebuah cinta untukmu, kekasih hatiku.