Waktu itu, awal kami bertemu.

Tidak ada rasa tidak ada sapa dan tidak ada relasi yang mendasari semua pertemuann itu. Takdir lah yang membawa kami dalam pertemuan itu, Takdirlah yang menuntun kami dalam satu "lubang" yang sama untuk kami selami. Menuntun kami untuk bersatu, menjadi padu yang tak pernah ragu dalam melewati semua waktu sampai saat ini.

Kami dulu hanya segelintir manusia egois yang baru melek dunia setelah "resmi" diterima di Jurusan itu. Ya, Jurusan yang kata orang sangat menakutkan, kata orang "mau jadi apa (?)", dan banyak lagi kata orang yang lain yang kadang menjadi ragu kami dalam menyusun langkah menjadi lebih baik lagi. Bagi kami, semua itu adalah anugerah, kebetulan, keterpaksaan, dan kesediaan yang bercampur aduk menjadi satu dalam pikiran muda kami … Ya, waktu itu yang telah kami jalani sampai saat ini.

Kami adalah sekumpulan manusia yang baru mengenal, mengenal kejam dunia dan masih terbuai kenangan selama 3 atau 2 tahun kami berbuai dengan putih abu-abu. Masa yang bagi sebagian orang adalah masa yang paling indah. Tapi, bagiku, disinilah aku menemukan segalanya. Segala yang membuatku jadi lebih baik. Mengajarkanku apa itu hidup, mengajarkanku untuk menjadi orang dengan prinsip yang kuat dan tidak tergoyahkan.

Sampai pada suatu saat, ketika "masa" itu datang, aku pun kalian pilih menjadi sesorang yang kalian anggap pantas untuk ada di depan kalian, di samping kalian, dan di belakang kalian. Ya, suatu tanggung jawab besar bagiku, bagi seorang anak yang baru melek dunia unuk belajar bagaimana menjadi seorang yang bisa jadi panutan 77 pikiran manusia dewasa.

Advertisement

Saat itu memang aku paling tidak mengerti, kenapa aku yang harus mengambil tanggungjawab ini. Bocah desa yang masih polos, yang masih belum tau apa-apa. Hanya bermodal nekad dan tekad demi meraih kegemilangan bersama. Dari situ aku mulai berusaha, mendewasakan diri dengan lebih cepat, dengan segala kekurangan yang ada. Aku pun coba membangun pribadi "pantas" secepat dan sepaham apa yang aku cerna dalam proses belajar ini.

Hari itu pun juga, aku juga berjanji pada mereka, walau tak pernah ada kata "janji" tapi aku sepakat, bahwa itu adalah janjiku dengan amanah yang sangat besar. Menjadi tameng, menjadi benteng, menjadi kompas, dan menjadi pelita bagi kalian, orang yang aku beri label sebagai "Keluarga".

Memang sangat berat untuk menjalankan ini, berjalan dengan prinsip yang berbeda dengan kebanyakan. Amanah ini memang tidak akan dipandang dengan suatu gelar atau suatu sertifikat seperti apa yang orang lain cari. Bagiku, ini adalah pilihan, pilihan untuk fokus pada satu tujuan dari tahun pertama hingga tahun terakhirku berselancar ilmu sebagai seorang mahasiswa.

Banyak orang yang bicara ini dan itu kepada diri ini, diri ini yang masih dalam pencarian jati diri dan prinsip ke depan yang sedang dalam proses penyusunan. Dalam waktu itu pun, aku memutuskan, untuk menjadikan ini sebagai "pencapaian, prioritas, dan fokusku" selain fokus untuk kepentinganku sendiri. Inilah jadi pilihanku, pilihan logika dan perasaan yang menjadi satu dalam kepaduan untuk menyelesaikan apa yang telah dimulai agar indah pada saatnya kelak.

Kata-kata orang tidak terlalu kudengarkan, hanya masukan dan nasihat baik yang menjadi pengingat langkah ini. Langkah yang kadang berubah seiring bergelut hati ini dengan berbagai macam goda dan coba yang mengiringi "kami" untuk tetap maju dalam langkah kaki bersama. Tapi, itulah salah satu arti, arti hidup yang tidak akan didapati jika aku tak fokus pada apa yang aku "janjikan" pada waktu itu.

Kini, walaupun kami mulai berbeda, tapi kuharapkan rasa ini selalu sama. Rasaku masih sama untuk selalu berjuang dengan atau tanpa batuan dari kalian. Memperjuangkan apa yang harus diperjuangkan, selalu percaya bahwa ini semua adalah keindahan hidup, Kenyamanan rasa ku tidak bisa diganggu gugat, karena bersama kalian selama 4 tahun ini mengajarkanku apa itu hidup. Bagiku, ini lebih dari sekedar suatu organisasi atau komunitas, Bagiku, Kalian adalah KELUARGA.

Untuk kalian, Sahabat dan keluargaku dalam "persimpangan jalan" di Surakarta.

Tetaplah satu, walau dentum itu di mana-mana.

Dari orang yang selama ini kalian percaya.