Dear lelakiku, boleh aku memberitahumu sesuatu? Ini [mungkin] bukan sesuatu yang penting bagimu. Tapi ijinkalah, demi memudahkan urusanmu, ijinkan aku mengatakannya.

Lelakiku, aku adalah anak gadis yang susah payah dibesarkan oleh orang tuaku. Ayahku, kutahu ia banting tuang hanya untuk memberikan fasilitas yang layak bagiku. Tak jarang ia harus mengambil waktu tambahan kalau aku menginginkan sesuatu yang lebih dari biasanya. Ia tak pernah mengeluh. Yang ia tahu anaknya harus bahagia seperti kawan-kawannya. Lelakiku, renungkanlah. Sejenak saja. Apa kau tega membiarkan serpihan tulang rusukmu ini harus bersusah payah sedang di masa kecilnya Ayahnya berjuang untuknya. Ini bukan berarti aku tak ingin hidup susah, bukan, sama sekali. Aku justru akan bahagia ketika menemanimu menuju jalan kesuksesan, meraihnya bersamamu. Tapi satu hal, aku mohon pertimbangkanlah. Berjuanglah sedari sekarang. Sama sepertiku yang saat ini berjuang memantaskan demi kau dan anak-anak kita.

Lelakiku, sejak ijab kabul kau ucapkan, tahukah kau? Sejak saat itulah dosa-dosaku mulai menjadi tangungan pundakmu. Karena detik itulah kau resmi menjadi imamku, tuntunanku, panutanku. Aku tak ingin membebanimu dengan dosa-dosaku, tentunya. Dan kau pun bisa menyelamatkanku. Ini berat, tapi kau harus tahu. Belajarlah tentang agama dengan baik. Supaya kau bisa membimbingku. Membimbing keluarga kecil kita demi ridha-Nya.

Lelakiku, jika kau siap, datanglah ke rumah. Mintalah kepada orang tuaku. Karena saat ini aku adalah miliknya. Tak perlu lama-lama, toh aku tak ingin meminta apa-apa. Aku juga tak ingin membuat ayahku semakin bergelimang dosa hanya karena puterinya tak mampu menjaga perasaannya.

Lelakiku, itu saja. Semoga kau mengerti. Maafkan surat cintaku tak seromantis dulu. Bahkan tak kuselipkan sedikitpun kata-kata mesra untukmu. Aku harap kau memahaminya.

Advertisement

Dariku, yang selalu mendoakanmu.