Dua piring nasi padang kesukaan kita tersaji sudah di hadapan mata. Sosokmu yang rupawan duduk di seberang, sedang khusyuk memanjatkan puja. Aku di sini, berkerudung merah jambu, pula menghaturkan lafadz basmallah, lalu do’a sebelum makan. Kiranya Tuhan mendengar bahwa perbedaan ini bukan halangan untuk kita saling mencinta.

Genap tiga tahun kita saling mengenal. Menjalin persahabatan yang ku tak tahu kapan tanggal kadaluarsanya. Dalam tiga ratus enam minggu perjalanan ini, hari Minggu bukanlah hari yang mudah kita jumpai. Bukan, bukan alasan kesibukan kita yang tak kunjung menemui akhir. Hanya saja, kau sudah berjanji, saat dibaptis tidur dalam pangkuan ibumu. Bahwa minggu-minggumu akan kau persembahkan pada Tuhan. Dalam khusyuknya do’a, maupun kidung puja-puja. Kamu tahu ini menyakitkan? Ya, kau tak akan tahu. Karena selimut persahabatan telah menutup semua rasaku.

Lafadz Adzan berkumandang lima kali dalam satu lilitan nafasku. Barangkali kau berkenan, mengingatkan aku untuk bertemu Tuhanku tepat waktu. Dan ya, semua itu benar kau lakukan. Tak jarang, kau menungguku di lantai-lantai musholla perpustakaan, dengan wajah yang menunduk dihantam kelelahan. Adakah kau mengerti? Bahwa parasmu makin tampan kala menanti rampungnya sembahyangku dengan jutaan kesabaran.

Berulangkali, orang-orang yang berlalulalang di hadapan, menatap kita barang sebentar. Lalu mereka berbisik. Mungkin terkagum dengan rosario yang melingkar di lehermu. Atau, tentang jilbab yang kukenakan dengan sematan kecil di ujung bahu, menutup dada sempurna, layaknya perempuan-perempuan anggun idamanmu. Lucu. Sekaligus pilu. Karena kali ini, aku kalah di matamu. Pun di mata orang-orang. Iman kita tak berjodoh. Mungkin jadi kawan, sudah lebih dari cukup.

Kau tahu? Hampir semua orang mengatakan bahwa kita serasi. Sosokmu yang tinggi, putih bersih dan rupawan serta cerdas, layak berdampingan denganku. Meski bagiku, aku biasa-biasa saja. Namun, seperti hari-hari sebelumnya. Kita hanya sanggup menertawai satu sama lain. Menertawai lelucon yang tidak lucu. Lelucon tentang rasa nyaman ini. Lelucon tentang kecocokan kita. Sedangkan selama ini, kita adalah sahabat baik, yang dimana ada kamu, di situ ada aku. Kita memang cocok. Serasi. Sebagai sahabat dekat yang saling mengisi.

Advertisement

Malam ini sejujurnya, aku merasakan sesak yang tak biasa. Kamu pun paham bahwa rinduku sudah di poros kepala. Seminggu tak bertemu, ternyata dapat menimbulkan efek sedahsyat ini. Bayang wajahmu mengganggu, bahkan bisa-bisanya hadir di sepertiga malamku. Pun aku mengerti bahwa nun jauh di sana, kau sedang menggigil kedinginan. Kesakitan menahan perihnya lukamu. Aku tak mungkin tiap hari menyambangi. Apa dayaku, pertemuan harus kupersingkat, hingga rasa ini memudar dengan sendirinya.

Usiamu jauh lebih muda. Perbedaan kultur kian terasa bila kita sebut tentang latar belakang budaya dan agama. Kamu dibesarkan dalam nanungan kidung puja dan lantunan suara merdu remaja-remaja gereja. Sedangkan aku, tiap sore harus pergi ke langgar, mengeja dan mengaji kitab suci, lalu sholat Maghrib di bawah payung senja.

Hubungan ini tetap romantis, menurutku. Meski sama-sama keras kepala, engkau selalu jadi pihak yang pertama kali mengalah. Pun aku tak sanggup berdiam diri lebih dari tiga jam tanpa kabarmu. Walau pada akhirnya, kau hanya mengucap “hai” atau “hmm” atau melampirkan stiker-stiker lucu ala kamu. Namun jauh daripada itu, mengetahui kamu baik-baik saja, sudah lebih dari secukup-cukupnya cukup.

Coba katakan, untuk apa hubungan ini terus kita pertahankan? Aku mengerti, aku paham, kau pun begitu. Kita diam-diam mendo’akan, bahwa aku akan bergegas, menemukan pria tambatan hati terbaik, yang tiada lagi menyakitiku seperti mereka. Ya, begitu pula diriku, yang tak henti mendo’akanmu. Mendoakan agar kamu bisa jadi dewasa dan membahagiakan Mama Papamu nun jauh di sana.

Mungkin, satu-satunya kesamaan yang tak mampu diberi alasan adalah kita sama-sama suka senja. Ya, kau dan aku. Kita menari di bawah senja dengan bahasa tubuh sederhana. Hanya kamu dan aku yang tahu. Hanya kamu dan aku yang mengerti. Tentu selain pribadi kita yang sama-sama introvert dan aneh bagi semesta.

Sahabatku sayang, bukankah selama ini kita saling menyayangi? Rasa nyaman dan perhatian adalah makanan sehari-hari. Pantas saja bila semua orang menatap iri pada kita. Kala kamu menantiku di teras musholla, atau aku yang rutin mengantarkanmu ke gereja. Bahkan, ketika semua orang sibuk mencaci maki antar golongan, kita malah asyik menikmati es krim coklat dan strawberry di rooftop perpus kampus. Romantis, ya?

Ya, semuanya terasa romantis, justru sebelum cinta itu datang mengetuk pintu. Ah, aku benci menghadapi hal-hal semacam ini. Aku benci harus berpura-pura mengucap selamat pagi, kesayangan tanpa melibatkan perasaan yang mendalam. Perasaan sebagai seorang perempuan pada laki-laki yang ia cintai. Perasaan seorang manusia yang harus dikubur dalam-dalam, dan disiram racun agar tak tumbuh makin lebat. Ya, aku memendam rasa itu. Terlebih saat kamu hadir di sisi saat ia memilih pergi.

Mungkin bagimu biasa saja. Ya, selalu biasa saja, mengingat kamu tak pernah merasakan jatuh cinta. Aku memaklumi, selalu memaklumi segala ucapmu atas rasa nyaman yang tersalurkan dari kedekatan kita selama ini. Benar ucapmu, kita tak seharusnya melibatkan cinta sebagai pria dan wanita. Kita ini berbeda. Kita tak seharusnya berada dalam lingkaran ini. Kita harus keluar segera.

Sahabatku, seorang yang kucintai diam-diam enam bulan belakangan, ketahuilah, bahwa rasa cinta ini cukup aku yang mengetahui. Biar diredam ombak samudera yang kita nikmati sore ini. Kamu dan aku, tak akan bersatu di hadapan penghulu. Aku akan terus jadi kakak perempuanmu. Dan kamu akan terus jadi adik laki-lakiku. Cukup aku yang rasakan. Bila kamu berkenan, kamu boleh mencintaiku. Tapi kumohon, jangan korbankan Tuhan pada permasalahan ini.

Biar bagaimanapun, aku tetap ingin menikmati makan malam romantis ala kita: kamu dengan salib yang kau lukis di ujung do’amu dan aku dengan basmallah yang kuucap dengan syahdu. Sudah biarlah, mari kita tetap berjalan. Hingga pada akhirnya, jalan kita terpisah: kamu ke Yerusalem dan aku ke Mekkah. Tenang saja, Tuhanku dan Tuhanmu akan tetap berteman dekat. Sama seperti kita yang saling mencinta, sebagai dua insan yang berbeda. Bahagialah, aku tetap di sisimu. Sebagai sahabat dan kakak terbaikmu.