Tiada seorang pun yang bisa meminta Sang Pencipta untuk menambatkan benih jiwa kita pada Ibu mana pun di dunia ini. Kita pun tidak bisa menentukan seperti apa kulit yang akan kita bawa lahir di dunia.

Taukah kalian, tak sedikitpun aku melihat perbedaan di antara kita sahabat-sahabatku, sampai suatu saat kalian menyuarakan seakan ada sekat tembok yang tak terlihat di antara kita.

Pernahkah kalian berada di lingkungan minoritas?

Taukah kalian seperti apa rasanya bila kalian seakan dianggap berbeda?

Saat aku memberanikan diri merantau ke ibukota, aku merasa sangat bahagia dan bangga bisa berkenalan dengan kalian, sahabat-sahabat baruku dari ujung barat hingga timur Indonesia tercinta. Aku merasa akan sangat bisa bergabung dengan kalian, karena kebaikan hati kalian semua.

Advertisement

Tak pernah kusangka ada yg merasa terganggu dengan kehadiranku hanya karena aku menyebut nama Tuhan yang berbeda.

Pernahkah kalian berada di posisiku? Taukah kalian bahwa aku sedih tapi tetap berusaha tersenyum? Kalian percaya bahwa kepercayaan kalian sempurna, tapi taukah kalian, di mata kami yang kalian anggap berbeda,

Kesempurnaan agama lebih kami lihat pada pengikutnya.

Aku tidak pernah mempermasalahkan ketika kalian menyebut agama kalian sempurna, tapi jika boleh aku sarankan, janganlah kalian menodai kesempurnaan agama kalian hanya demi ego untuk memperlihatkan kesempurnaan itu.

Taukah kalian? Itu hanya membuat kami, kaum minoritas malah berfikir sebaliknya. Aku yakin, tentu kalian tidak menginginkan yang seperti itu, bukan?

Jujur saja, seringkali aku merasa tersinggung dengan tingkah kalian sahabat-sahabatku, akun facebook kalian gunakan sebagai tempat menyebarkan konflik, yah walaupun banyak orang sepertiku, yang kesal namun tetap memendam dan tersenyum, hanya mendoakan semoga kalian sadar betapa itu menyinggung kami.

Tidak masalah untukku ketika kalian menyebarkan artiket tentang kebaikan walapun berbau agama, namun ketika dibumbui dan digandeng hina-menghina, serta saling merendahkan, apakah kalian sadar sepenuhnya bahwa kami bisa baca, dan kami punya hati? Sekali lagi aku hanya bisa menghela nafas, tersenyum, serta mendoakan kalian.

Heran, tak inginkah kalian hidup berdamai dengan kami? Atau sebegitu inginkah kalian agar kami mengikuti kepercayaan kalian?

Sahabat-sahabatku, di depanku kalian berlaku seperti tidak ada yang berbeda di antara kita, tapi di belakangku? Taukah rasanya? Aku yakin tak perlu kusebutkan.

Sahabat-sahabatku, tak pernah sedikitpun aku menganggap kalian berbeda. Tak pernah sekalipun aku memilah teman dari kulitnya, dari siapa dilahirkan, maupun dari mana asalnya, serta bagaimana bahasa daerahnya.

Aku hanya tau bahwa aku bahagia bisa berkenalan dengan kalian. Tak pernah sedikitpun kuanggap kalian berbeda. Bahkan mungkin beberapa di antara kalian jauh lebih baik dari sahabat-sahabatku yang sebutan Tuhannya sama denganku.

Tapi taukah kalian, bagaimana rasanya bila kalian ternyata memandangku hanya sesosok yang tiada apanya?

Maafkan aku sahabatku, telah lancang menulis coretan yang tak penting ini, sungguh aku sadar mungkin tidak ada artinya untukmu. Namun, ini hanyalah coretan dari hati kecilku yang sudah lama aku pendam.

Sahabatku, bagaimanapun juga aku sangat mencintaimu, tak peduli apapun kepercayaanmu. Bagiku kita tetaplah sama.

Sama-sama ciptaanNya yang selalu berusaha menjadi pribadi yang lebih baik di setiap detik nafas yang diberikan-Nya.

And for the last,

I forgive you, not because you deserve forgiveness.

But, because I deserve peace (^.^)