Hai Mr. L …

Bagaimana kabarmu?

Ah padahal pertemuan kita terakhir kali 3 bulan yang lalu, namun aku tidak begitu sempat untuk menanyakan kabarmu waktu itu. Dari penantianku selama 4 tahun menunggumu, hari itu, tepat 3 bulan yang lalu kita berjumpa lagi untuk kedua kalinya, tak lupa dengan berjabat tangan untuk kedua kalinya juga. Masih sama, manis dan berkesan. Sayang sekali, waktu masih enggan memberikan kesempatan bercengkrama pada kita.

Boleh aku bercerita tentang awal pertemuankita, Mr. L?

Waktu itu diantara hiruk piruk dan libur panjang perayaan Idul Fitri 2011, kamu berkunjung ke rumah ku dengan kakakmu. Aku masih ingat kamu, laki-laki dengan kaos polos dan topi coklatnya sedang duduk manis sendirian dengan kepala menunduk yang terlihat asik memainkan handphonenya ketika aku sengaja melewati mu. Kamu tau, aku biasa saja saat itu. Namun, ketika aku mencoba mencari alasan dengan sibuk memasang tali sepatuku karena malu bertemu kamu dan kakak mu, tanpa kuduga kita berdua harus berhadapan dan bersalaman dengan wajah yang masih malu-malu kucing. Ah betapa kikuknya aku saat itu, berjabat tangan denganmu. Dan Itulah awal pertemuan kita, terlalu singkat namun masih berkesan.

Advertisement

Setelah itu, boleh aku bercerita lagi?

Iya. Entah kenapa ketika aku pertama kali melihat wajah mu, aku merasa ada yang beda. Kamu manis dengan kulit sawo matang yang kamu punya. Kamu manis ketika kamu mencoba membuka topi coklat mu dan membiarkan tanganmu berjabat dengan tanganku. Entah lah, terlalu sulit untuk dijabarkan, tapi mungkin anak muda bilangnya itu jatuh cinta pada pandangan pertama. Kamu tau? Itu yang aku rasakan terhadapmu. Pertemuan singkat kita sangatlah berkesan untukku.

Aku begitu kaget ketika kamu tiba-tiba mengirim sebuah message padaku. Aneh karena kamu bisa memiliki nomer handphone ku dan aku akhirnya tau kalau kamu meminta nomer itu dari saudaraku. Dan aku senang juga, karena pertemuan kita menghasilkan sebuah hubungan baik.

Kita terus berkomunikasi, saling membalas message dan merasakan betapa alay nya kita waktu itu. Hahaha seperti orang yang sedang pdkt namun terhalang jarak. Hmm, mungkin hanya aku saja yang merasa seperti itu, (mungkin tidak denganmu). Tidak pernah bosan kita berkomunikasi dari pagi, siang, bahkan malam. Aku masih ingat salah satu isi massage kita, ketika kamu masih ingin ber-sms ria denganku, tapi aku memilih untuk tidur duluan karena mengantuk. Kamu dengan bahasa khas mu memaksa aku untuk tidak tidur, yang akhirnya berbuah percuma karena aku akhirnya memilih tidur juga daripada kamu. Ah lucu juga jika diingat-ingat lagi. Begitu polosnya kita 4 tahun yang lalu.

Kamu menghilang.

Ketika dari masing-masing kita menyadari ada rasa suka, dari sana juga kamu pelan-pelan menghilang. Kita memang saling menyukai tapi faktor keluarga dan jarak lah yang menjadi masalahnya. Aku yang tidak terlalu suka jika hubungan kita tercampuri oleh keluarga kita, dan juga kamu yang mempermasalahkan jarak. Memang, bukan jarak yang dekat untuk menjalin sebuah hubungan jarak jauh alias LDR. Kita yang masing-masing masih labil dan polos untuk menjalani hubungan tersebut, akhirnya memilih untuk tetap berteman dekat. Iya, dan setelah itu kamu sulit untuk ku hubungi dan ya, komunikasi terputus begitu saja dan begitupun dengan pertemanan kita. Tidak ada yang tau hubungan kita ke depannya seperti apa lagi. Aku dan kamu.

Kamu tetaplah cinta pertamaku, Mr. L

Entahlah, seberapa banyak pun aku menjalin hubungan dengan laki-laki lain, kamu tetap menjadi pikiran akhir ku. Aku terlalu tertarik padamu, sampai laki-laki yang mendekatiku dengan sebaik apapun dia, setampan apapun dia, tidak bisa menggantikan kamu. Hahaha memang terlalu bodoh untuk memahami semuanya.

Mr. L, kamu membuatku penasaran sampai sekarang. Bahkan nama aslimu pun membuatku penasaran. Andai aku diberi kesempatan untuk menjalin komunikasi lagi denganmu, banyak sekali pertanyaan yang ingin aku tanyakan padamu. Agar rasa penasaranku yang menjadi teka-teki selama ini pada yang aku sebut cinta pertama bisa lenyap tanpa mengganjal di pikiranku lagi. Ah betapa senangnya berandai itu.

Tuhan begitu baik memberikanku kesempatan untuk bisa berjumpa denganmu. Dekat denganmu juga, dulu. Namun akhirnya semuanya menyisakan rasa penasaran dan teka-teki yang tidak bisa aku selesaikan yang entah kapan berujungnya dan harapan-harapan indah yang aku rangkai sendiri. Iya, asal kamu tau.

Aku berharap kamulah jodohku.

Terdengar gila memang. Namun nyatanya aku masih begitu menyukaimu. Entah mungkin aku yang memang terlalu berharap pada kamu, atau memang keadaan membuatku menjadi berharap pada kamu. Tidak peduli dengan perbedaan umur kita yang terlalu dekat, tidak peduli dengan semua masalah dan jaraknya. Aku tetap berharap kamulah jodohku, kelak. Walaupun dalam doaku kamu tidak pernah aku sebut, tapi percayalah, dalam pikiran dan hati kecilku aku berharap kamu lah seseorang yang Tuhan beri untuk menjagaku. Dari saat pertama kita bertemu, dan sampai saat ini, kamu tetap seorang laki-laki yang menjadi harapanku. Namun kembali lagi, harapan adalah hanya sekedar harapan. Lelah rasanya berharap tanpa ujung.

Jika ternyata kelak Tuhan tidak menjodohkan aku denganmu,

aku harap kamu masih ingat dengan seorang wanita yang pernah begitu bahagia dalam kikuk jumpa pertamanya denganmu, Aku.

Jika pada kemudian hari, tiada lagi yang kamu tunggu sebab seseorang yang bukan aku telah membuatmu merasa utuh, ingatlah telah kurelakan singgahmu yang dapat ku sanggah.

Iya. Dan mungkin akan tiba saatnya aku akan berhenti mengagumimu nanti. Berhenti mengharapkanmu diam-diam. Berhenti untuk menyukaimu. Berhenti tersenyum ketika memikirkanmu. Dan berhenti dari apapun soal dirimu.

Iya, aku akan berhenti jika memang kamu bukanlah jawaban dari semua harapanku.

Boleh aku berucap padamu, Mr. L?

Terimakasih

Terimakasih pernah datang, lalu menghilang

Terimakasih telah singgah walau sesaat, lalu pergi

Terimakasih pernah menghibur, lalu kabur

Terimakasih pernah mendekat, lalu menjauh

Terimakasih pernah meninggikan harap, lalu menjatuhkan

Dan terimakasih sudah bersedia mengenalku di antara banyak kemungkinan yang lebih baik untukmu.