Ini tentang percakapanku dengan Tuhan mengenai seorang pria…

***
Aku menikmati perjalanan menuju rumahku didalam bus yang sedang melaju. Sampai tiba-tiba aku teringat akan seseorang, dan hal itu membuat perasaanku menjadi tidak nyaman. Aku berkali-kali menghembuskan nafasku, berharap perasaan ini segera berlalu dari dalam hatiku.

Kusandarkan kepalaku dikursi dudukku dan memejamkan mataku. Beberapa detik kemudian… Astaga! Bayangannya datang kembali. Kubuka mataku dan bertanya pada diriku sendiri, Apakah aku jatuh cinta? Aiisshh… mendengar pertanyaannya saja aku sudah merinding dan… takut.

***
Lalu aku bertanya pada Bapa, sumber segala jawaban "Bapa, apa yang sedang terjadi padaku? Aku takut jika hal itu benar". Bapa menjawabku dengan lembut "Nak, setiap hal yang terjadi dalam hidupmu berada dalam kuasaKu, bahkan disaat hatimu bertemu dengan hatinya, Aku membuat segala sesuatu indah tanpa kesalahan. Tidak ada yang perlu kau takuti atau kau tutupi dariKu."

Aku bertanya kembali "Jadi jika aku jatuh cinta, tidak salah?"

Advertisement

Jawab-Nya padaku "Jatuh cinta bukan kesalahan nak, menyukai seseorang juga bukan kesalahan. Selama hatimu tetap tertuju kepadaKu maka kau pasti akan melihat tuntunanKu agar kau dapat mengendalikan perasaanmu dan meresponnya dengan benar, sampai waktunya nanti Aku menyatukanmu dengan pria yang sudah Kutetapkan."

Lalu aku bertanya lagi "Jadi, apakah ini waktu yang tepat bagiku untuk memiliki pasangan?" Kemudian Bapa membawaku kepada pengertian bahwa saat ini, Ia sedang mempersiapkan seorang pria yang terbaik, yang sepadan denganku, yang sudah Ia tetapkan dari semula.

Bapa sedang menempa dia dalam karakternya, bukan menjadi seorang yang sempurna, tapi seorang pria yang mau mengambil tanggung jawab dan menghidupi tujuan hidupnya. Pria yang mencintai Tuhan melebihi cintanya padaku. Pria yang akan menjagaku dari hawa nafsunya sendiri. Pria yang tetap mengasihiku walau ditengah konflik dan masa yang berat. Pria yang meletakkan Kristus sebagai Kepala dalam kehidupannya dan mencari kehendak Tuhan sebelum memutuskan suatu perkara.

Sampai waktunya nanti dia akan memintaku langsung dari Bapa untuk menjadi penolong kedua setelah Bapa, dan mengajakku berjalan bersama untuk menggenapi panggilan mulia-Nya.

Dan di waktu yang sama, Bapa pun sedang menempa hidupku untuk menjadi seorang wanita yang berfungsi melalui kepekaannya, dan kuat karena mengandalkanNya. Wanita yang mengasihi Tuhan lebih daripada apapun. Wanita yang tahu bagaimana mengatur dirinya sendiri sebelum ia mengatur rumah tangganya. Wanita yang dapat menjaga kesucian dan kekudusannya. Wanita yang perkataannya membangun, tepat waktu dan manis didengar. Wanita yang tunduk dan taat pada otoritasnya. Wanita yang cantik karena memiliki hati yang lemah lembut dan bersedia diajar.

Lalu, satu pertanyaan terakhirku kepada Bapa "Bapa, lalu kapan Kau akan mempertemukan aku dengannya?"

Bapa tersenyum lembut sambil berkata "Setelah kau menyelesaikan tanggung jawab dan mengalami arti kasih di masa singlemu. Saat itulah Aku akan membawamu masuk kedalam level-level kehidupan selanjutnya untuk mengalami arti kasih disetiap masa hidupmu."

Ya, aku percaya Bapa sedang bekerja. TanganNya terus merenda suatu karya yang mulia. Sebuah cerita cinta yang dimulai dari hati yang murni dan mengasihi Dia, yang ditulis oleh Sutradara yang terhebat.

***
Akh, akhirnya bus yang kutumpangi sudah berhenti di halte tujuanku. Perjalanan yang luar biasa malam ini karena aku belajar sesuatu yang baru lagi. Terima kasih Bapa, aku tahu aku tidak perlu takut untuk mengakuinya. Ya, aku mengatakannya pada-Mu Bapa, puterimu ini telah jatuh cinta.

Tapi perasaan ini aku serahkan padaMu, supaya Kau mendaur ulang kembali menjadi kasih yang tidak egois dan tetap murni sampai hatiku berhenti pada pria yang tepat, yang Kau tetapkan dari semula.