Dulu, ada seorang lelaki yang telah berulang kali melakukan kesalahannya padaku. Dia memintaku untuk sekali lagi memaafkannya.

Pada saat itu aku hanya sangat membencinya, tapi aku tidak mau amarahku bertumpuk di hati dan menjadikan kerasnya egoku ini sebagai alasan untuk tidak memaafkannya. Tuhan saja Maha Pemaaf, kenapa aku harus sombong menjadi orang yang tidak pemaaf?

Babak baru pun dimulai ketika dia dengan yakin memintaku untuk menjadikanku sebagai wanitanya. Wanitanya yang diyakini bahwa aku tidak akan pernah mengecewakannya. Aku menerimanya dengan segala kekurangannya. Aku yang akan selalu setia tetap bersamanya apapun yang terjadi, dan aku yang disebut sebagai calon istri yang diam-diam dia idamkan.

Tahu apa yang ada di pikiranku saat itu? Aku pun tidak tahu pasti, karena traumaku akan perbuatannya masih kuingat jelas. Tapi lagi-lagi aku tidak mau menolak takdir Tuhan. Aku coba menjalaninya tanpa ada rasa khawatir karena aku hanya melihatnya yang waktu itu ingin berubah menjadi lebih baik.

***

Advertisement

Aku masih ingat, di mana setiap pagi aku selalu melihat senyummu di depan kelas dengan seragam biru putih. Serta bau minyak wangi yang sering kamu gunakan. Wangi itu masih aku ingat sampai hari ini. Lalu kamu pun tersenyum padaku masih dengan tulus. Iya. Aku bisa melihat itu.

Hari demi hari yang aku jalani bersamamu penuh dengan kesederhanaan. Kesederhanaan yang bisa membuatku bahagia tanpa aku harus menjadi orang lain. Kamu pada akhirnya bisa membuatku jatuh cinta berkali-kali. Aku suka kamu yang bisa mengimbangi semua candaanku. Aku suka caramu menyayangiku pada saat itu, kamu benar-benar membuatku menjadi wanita yang tidak pernah kekurangan perhatian sedikitpun.

Walaupun saat ini kita menjalani hubungan ini dengan jarak jauh, karena kamu yang ingin mengejar cita-citamu di kota yang terbilang jauh dariku, namun kamu selalu meyakinkanku bahwa kita pasti bisa melewati semua ini. Kita jalani hari-hari kita melalui chat atau video call, namun itu tak sedikitpun merubah rasa cintaku padamu. Bahkan, aku selalu jatuh cinta padamu di setiap harinya.

Banyak hal yang ternyata kukagumi dari sosokmu yang baru ini. Kamu selalu berusaha untuk menjadi manusia yang lebih baik, entah itu dalam urusan pribadi ataupun sekolah (akademik). Kamu sudah berubah. Semesta seakan mendukung kita untuk merayakan semua kebahagiaan sederhana yang diciptakan ini.

Kamu tahu kan, bahwa di dunia ini tidak ada yang serta merta berjalan mulus. Semua ada rintangannya. Seperti ada kalanya kamu seringkali mengeluh padaku untuk bisa mendapatkan sesuatu yang lebih dari saat itu, yang kamu bilang sama hebatnya seperti teman-temanmu, yang akan membuatmu, aku, dan keluargamu bangga. Yang bisa kulakukan hanyalah mendoakanmu, karena aku tahu kamu pasti bisa menjadi seperti mereka.

Sampai akhirnya semua doa-doa menggema di langit. Atas izin Tuhan, kamu melesat bagai anak panah yang menggebu mencapai impianmu saat itu. Dan aku adalah orang pertama selain ibumu, yang dengan bangga menyambutmu, lelakiku yang hebat ini. Walau aku tahu ini adalah hasil kerja kerasmu, tapi aku bahagia bisa mendampingimu dari kamu yang belum menjadi apa-apa sampai saat kamu sekarang mendaki puncak. Dan aku berharap selamanya akan tetap begitu.

***

Seiring waktu berlalu. Suatu hari, aku mendapati kamu yang begitu terlena akan nikmat dunia. Tiba-tiba saja kamu menjadi asing, tak jarang aku beradu pendapat denganmu. Bahkan sekarang kita jadi jarang chat atau bahkan video call. Padahal, dulu kita tak pernah melewatkan hari tanpa chatting.

Padahal ini baru sebentar, tapi kamu sudah berubah, Sayang?

Dan tibalah hari paling buruk itu. Hari di mana kamu bilang, kalau kamu sudah tidak lagi menyayangiku. Hari di mana kamu bilang, kalau kebahagiaan kita sudah lewat. Kamu menyalahkan semuanya kepadaku yang aku sendiripun tidak tahu apa sebenarnya salahku. Dalam waktu semalam hidupku berubah. Lagi, aku dihancurkan seketika oleh laki-laki yang aku sayangi. Kamu meninggalkanku tanpa mengingat perjuangan kita saat memulainya.

Lihat apa yang kamu lakukan? Kamu melakukannya lagi padaku. Kenapa harus aku? Kenapa tidak orang lain saja?

***

Rupanya… Kamu ingin bebas melakukan apa saja dengan sekarang yang sudah kamu miliki ya, termasuk mendapatkan hati wanita?

Ingatkah kamu pernah mengatakan bahwa aku adalah wanitamu yang paling baik, paling setia, paling cantik, dan paling terbaik di antara siapapun yang pernah masuk di kehidupanmu? Semoga kamu ingat bahwa ucapan itu tidak dapat ditarik kembali sampai kapanpun.

Jika kamu membaca ini, aku hanya ingin bilang, "Aku sekarang sudah jauh lebih baik-baik saja, buktinya aku sudah sanggup menulis ini, kan? Aku malah khawatir kamu yang tidak akan baik-baik saja. Karena aku hanya ada satu di dunia ini. Dan kamu tidak akan pernah menemukannya lagi… "

Bagaimanapun aku tidak pernah menyesali ini. Ini sudah menjadi jalan hidup yang memang seharusnya aku lewatkan bersamamu, walau sebentar. Doakan saja aku bahagia dengan laki-laki yang baik, yang tidak akan pernah meninggalkanku karena dia mencintaiku dengan tulus, yang tidak sepertimu.

Jangan sampai hari yang kamu yakini buruk pada saat itu akan membuatmu menyesalinya seumur hidup karena telah menganggapnya buruk.

Tertanda,

Aku yang kamu tinggalkan.