Dimana lagi aku harus mengungkapkan rasa ini? Rasanya begitu sesak memendam sendirian. 5 tahun, aku memantapkan hati untuk mendampingimu tetapi keyakinan ini memudar seiringnya waktu. Begitu banyak hal yang tak bisa kupendam lagi hingga aku sempat berpikir untuk mengakhirinya saja.

Kamu, laki-laki yang dulu aku pilih untuk menjadi kekasihku kini tidak lagi aku inginkan di sisiku. Maafkan aku, bukannya aku tak mencintaimu lagi, aku hanya tak mampu untuk bertahan menghadapi sikapmu lagi. Bukannya aku tak menepati komitmen yang sudah kita bangun, aku hanya tak mampu bertahan dengan komitmen yang menyakitkan ini.

Kamu, laki-laki yang pernah kuimpikan menjadi masa depanku, maafkan aku yang tak setia dengan rasa ini. Bukan aku menduakanmu, aku hanya mencoba menyembuhkan rasa yang tak bisa ku bendung lagi.

Kamu terlalu asik dengan duniamu sendiri, sedangkan aku terlalu asik dengan duniaku yang menyedihkan ini. Seolah aku bukan menjadi diriku sendiri menikmati segala permainan yang tanpa sengaja kamu mulai. Mungkin semuanya berawal dari kesalahanku, terlalu menikamti perlakuanmu yang seolah menjadikanku seperti putri pada awalnya.

Namun kini aku sadari, semua itu hanyalah bujuk rayumu untuk menjadikanku keaksihmu. Terima kasih dengan segala rasa yang pernah kamu hadirkan. Aku begitu menikmatinya, sayang.

Advertisement

Haha entahlah, entah apa yang mau aku ungkapkan lagi. Rasanya semua berkecamuk! Kita memang beda! Kamu dengan segala keegoisanmu. Tak peduli dengan rasa sakitku, cemburuku, dan cintaku! Seolah kamu menikmati semuanya. Kamu terlalu naïf dengan segala alasanmu, tak ingin membuatku cemburu, sedih, marah dan blablabla.

Tetapi dibalik itu semua kamu justru dengan sengaja memperlakukanku seperti itu. Dengan segala janji yang kamu ucapkan, aku pun percaya saja dengan itu. Padahal aku tau, aku akan sakit jika aku percaya semua itu.

Inilah keegoisanku, mempertahankanmu dengan segala janji-jajimu itu. Bodohnya aku mempercayai itu bahwa kamu tak akan mengulanginya. Padahal semuanya omong kosong! Kamu memang laki-laki yang hebat sayang. Sanggup memperdayaiku dengan cintamu yang menyakitkan itu.

Untuk rencana masa depan yang pernah kita bicarakan, aku pikir kita hentikan saja ya? Demi Allah, aku sama sekali tak ingin mengingatnya. Banyak waktu yang sudah aku buang hanya untuk menunggu hal itu terjadi, hingga aku mengabaikan orang-orang yang memperdulikanku.

Teruntuk kedua orangtuaku, maafkan aku yang mungkin dulu mengecewakan kalian. Maafkan aku yang dulu mungkin memaksa untuk merestui hubunganku dengannya. Maafkan aku atas kesalahan bodoh yang pernah aku lakukan bersamanya. Maafkan anakmu yang hina ini.

Terakhir, untukmu laki-laki yang membuatku galau seperti ini, mari kita akhiri hubungan yang salah ini, mari kita jalani kehidupan masing-masing yang mungkin akan jauh menjadi lebih baik lagi. Maafkan segala keegoisan diriku, maafkan segala kekuranganku, dan maaf atas segala keslahan yang pernah aku lakukan kepadamu.

Terima kasih atas cinta yang kamu berikan selama ini dan terima kasih atas sakit yang kamu tanam dihati ini. Ke kembalikan masa depanmu kepadamu. I always love you, but not now. Aku sekarang sudah berbahagia dengan pilihan hidupku, aku akan mengejar karirku terlebih dahulu dan membahagiakan kedua orangtuaku. Maafkan aku yang pernah menyita waktu kesenanganmu bersama mereka, teman-temanmu. Semoga kita menjadi peribadi yang lebih baik, Mas J.

Jogjakarta, 25 April 2016 | 18.31